NAWACITApost.com - Calon presiden (capres) Ganjar Pranowo dinilai tengah berada di posisi yang sulit. Pasalnya, saat ini hanya didukung oleh 2 partai politik parlemen, yakni PDI Perjuangan dan PPP.
Sementara, rival politik Ganjar, Prabowo Subianto didukung oleh 4 partai politik parlemen, yakni Partai Gerindra, PKB, Partai Golkar, dan PAN. Sementara, Anies Baswedan sudah didukung 3 partai politik parlemen, yakni Partai Nasdem, PKS, dan Partai Demokrat.
"Situasi ini cukup riskan bagi pencapresan Ganjar, karena back up mesin politik PPP masih belum bisa mengamankan dan mengoptimalkan pemenangan Ganjar," kata Direktur Eksekutif Institute for Democracy and Strategic Affairs (Indostrategic) Ahmad Khoirul Umam, dilansir dari Kompas.com, Senin (14/8/2023).
Apalagi, lanjut Umam, PPP mendapat perolehan suara paling kecil ketimbang delapan partai politik lain yang lolos ke Parlemen, pada Pemilu 2019. Secara historis, perolehan suara PPP terus merosot sejak pemilu 2009. Mulai dari tiga besar pada Pemilu 2004, merosot hingga nomor 6 pada pemilu 2009, dan jatuh ke posisi 9 pada pemilu 2014 dan 2019 dengan jumlah kursi yang semakin sedikit.
PPP, lanjut Umam, partai berlambang Kabah tersebut diprediksi tak lolos ambang batas Parlemen atau parliamentary threshold pada Pemilu 2024. Prediksi ini, kata Umam, kian mengancam pencapresan Ganjar seandainya Pilpres 2024 digelar dua putaran.
“Jika PPP bisa mempertahankan eksistensinya pada Pileg 2024, maka ketika pilpres memasuki putaran kedua PDI-P masih punya teman dari partai Senayan. Namun, jika PPP tidak mampu mempertahankan eksistensinya, PDIP bisa menjadi the lonely fighter untuk memenangkan Ganjar, dengan dukungan partai-partai kecil di luar Senayan,” tuturnya.
Dengan dukungan PDI-P dan PPP, peta kekuatan koalisi pendukung Ganjar menjadi yang terkecil ketimbang dua poros koalisi lain. Jika digabungkan, keduanya menghasilkan 25,56 persen perolehan kursi DPR RI dengan perincian 128 kursi PDI-P (22,26 persen), dan 19 kursi PPP (3,30 persen).
Jumlah tersebut, kata Umam, masih melampaui ambang batas pencalonan presiden atau presidential threshold yang mensyaratkan capres-cawapres diusung partai atau gabungan partai dengan minimal perolehan 20 persen dari kursi DPR atau 25 persen suara sah nasional pada Pemilu 2019. Namun, kekuatan koalisi PDI-P dan PPP jauh tertinggal dari pendukung Prabowo Subianto.
Dengan kerja sama Partai Gerindra, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Golkar, dan Partai Amanat Nasional (PAN), koalisi ini menghimpun kekuatan 46,9 persen. Sementara, kekuatan poros pendukung Anies Baswedan berada di posisi tengah. Dengan dukungan dari Partai Nasdem, Partai Demokrat, dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS), mantan Gubernur DKI Jakarta itu menghimpun kekuatan koalisi sebesar 28,35 persen.
“Peta koalisi kini berbalik 180 derajat. PDI-P yang sepuluh tahun memimpin koalisi pemerintahan, kini harus berpuas diri di posisi buncit dengan kekuatan partai pendukung Ganjar sebesar 25 persen,” ujar Umam.