nasional

Tak Dibubarkan, Kemenag Bakal Bina Santri dan Guru Ponpes Al Zaytun

Minggu, 6 Agustus 2023 | 14:19 WIB

NAWACITApost.com - Kementerian Agama (Kemenag) bakal membina para santri dan guru Pondok Pesantren (Ponpes) Al Zaytun di Indramayu, Jawa Barat. Pembinaan itu dilakukan agar tidak ada kurikulum yang tersembunyi di ponpes pimpinan Panji Gumilang itu.

"Kami mendapatkan tugas untuk melakukan asesmen dan pembinaan terhadap seluruh guru dan anak didik atau santri yang ada di Al Zaytun," kata Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas di Gedung Kemenag, Jakarta Pusat, Jumat (4/8/2023).

Yaqut mengatakan, pemerintah pada prinsipnya tidak mau menghilangkan hak para santri mendapat pendidikan. "Anak-anak santri yang ada di sana tetap bisa mengikuti pendidikan, tapi di bawah pengawasan yang ketat agar tidak ada hidden kurikulum dalam Al Zaytun yang mengganggu kehidupan berbangsa, bernegara, dan beragama," tuturnya.

Adapun beberapa asesmen atau penilaian yang akan dilakukan kepada para guru, meliputi pola mengajar, cara mengajar, cara rekrutmen, hingga ideologi. "Semua kita akan coba lihat, sebelum nanti kita putuskan bagaimana nasib keberlanjutan lembaga pendidikan dan anak-anak didik di sana," jelas Yaqut.

Lalu apa saja kurikulum yang diajarkan Mahad Al Zaytun kepada santrinya?


Pnpes yang diresmikan pada 2019 itu mengklaim telah mengikuti kurikulum yang diterbitkan pemerintah. Ponpes Al Zaytun menggabungkan dua kurikulum agama dan kurikulum umum. Adapun kurikulum agama sesuai dengan yang dikeluarkan Kemenag. Sedangkan kurikulum umum mengikuti yang dikeluarkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Pada tingkat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) diajarkan tentang agama dan moral. Pada usia ini anak-anak diajarkan pendidikan jasmani dan juga pendidikan kognitif seperti pengetahuan umum dan sains; konsep bentuk, warna, ukuran, dan pola; konsep bilangan, lambang bilangan, dan huruf. Anak-anak juga diajarkan pengenalan bahasa dan aksara, juga diajarkan seni. Adapun muatan lokal pada PAUD antara lain seperti belajar Lagu Indonesia Raya 3 stanza, Lagu Mars Al Zaytun, pengenalan huruf hijaiyah, qiroah, hafalan juz amma, asmaul husna, dan praktik ibadah.

Sementara itu pada tingkat ibtidaiyah kelas 1-3 (kelas rendah), santri diajarkan tafaqquh fi al din, yakni Alquran dan hadits, akidah akhlak, fikih, qiro’ah wal kitabah, dan tahfidz. Pada tingkat ini, santri juga diajarkan pendidikan jasmani dan kemampuan bahasa. Lanjut ke kelas 4-6 (kelas tinggi), santri mulai belahar tentang Sejarah Kebudayaan Islam (SKI), dan pelajaran umum seperti matematika, Bahasa Indonesia, Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), Pendidikan Kewarganegaraan (PKn), dan Pendidikan Jasmani.

Selanjutnya, pada tingkat tsanawiyah diajarkan sejumlah mata pelajaran, antara lain akidah akhlak, Alquran dan Hadits, fikih ibadah, SKI, Bahasa Arab, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, IPA, IPS, matematika, dan pendidikan Pancasila dan kewarganegaraan, TIK, dan pendidikan jasmani. Pada tingkat ini, muatan lokal terdiri dari muhadharah atau berpidato dan taffaquh fii al-Din.

Untuk tingkat aliyah atau setingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) dibagi dua peminatan, yakni peminatan MIPA dan IPS. Kedua peminatan sama-sama diajarkan pendidikan umum dan agama Islam, yakni Alquran dan Hadits, akidah akhlak, fikih, dan SKI.

Untuk pendidikan umum juga diajarkan di dua peminatan ini, seperti Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Arab, dan Bahasa Inggris. Muatan lokal juga sama, yakni Bahasa Sunda, tafaqquh fii al-Din, muhadharah, metodik didaktik, dan jurnalistik.

Adapun yang membedakan masing-masing peminatan adalah, untuk MIPA diajarkan mata pelajaran eksakta. Sedangkan IPS diajarkan ilmu sosial, seperti halnya pada kurikulum SMA sederajat. Baik MIPA dan IPS bisa belajar lintas peminatan. Misalnya, santri MIPA bisa belajar ekonomi dan geografi. Sedangkan IPS bisa mempelajari biologi atau kimia.

 

 

 

Tags

Terkini