NAWACITAPOST.COM - Mantan Deputi Pemberantasan Badan Narkotika Nasional (BNN), Arman Depari dikenal sebagai sosok yang tegas dalam memberantas peredaran narkoba di Indonesia. Namun, di balik kiprahnya yang gemilang, ia tak segan mengkritik berbagai kendala internal yang dihadapi institusi Polri, khususnya dalam upaya pemberantasan narkoba.
Arman menggarisbawahi bahwa salah satu tantangan terbesar adalah proses seleksi dan pendidikan anggota yang bertugas di satuan narkoba. Menurutnya, kesalahan dalam tahapan ini bisa berdampak serius pada efektivitas kerja di lapangan.
“Anggota yang bertugas di bidang narkoba harus melalui seleksi ketat dan pelatihan khusus. Mereka juga harus memahami pendekatan global terhadap penanganan narkoba, di mana pengguna dianggap sebagai korban yang perlu direhabilitasi, bukan hanya dihukum,” ujar Arman, dalam sebuah podcast 'Sekaranglah Waktunya', yang dipandu Komisaris Media Nawacita Indonesia Otoli Zebua.
Arman juga menyoroti pentingnya solusi komprehensif dalam menghadapi pengguna narkoba. Baginya, memenjarakan pengguna tanpa rehabilitasi hanya akan memperburuk masalah.
“Pengguna adalah korban. Kita perlu solusi yang komprehensif, bukan hanya menangkap dan memenjarakan mereka,” tambahnya.
Indonesia sendiri menghadapi tantangan besar sebagai negara yang berada di jalur perdagangan narkoba internasional. Kondisi geografis yang strategis, ditambah lemahnya pengawasan di beberapa wilayah, menjadikan Indonesia target empuk bagi sindikat narkoba global.
Hal ini diperkuat oleh pernyataan Irjen Pol (Purn.) Ricky Wakano, mantan Kapolres Tanah Karo. Ia menjelaskan bagaimana sindikat narkoba internasional memanfaatkan situasi geopolitik di kawasan Asia Tenggara dan Timur Tengah.
Baca Juga: Tahan Gempa dan Api, Inilah Keunggulan Brankas Baluse
“Banyak narkoba masuk dari segitiga emas Myanmar-Thailand-Laos. Situasi politik yang kacau di Myanmar mempermudah sindikat untuk beroperasi. Ditambah lagi, wilayah-wilayah konflik seperti Afghanistan juga menjadi sumber utama produksi narkoba,” ujarnya.
Pernyataan ini menyoroti kompleksitas masalah yang dihadapi Indonesia, di mana upaya pemberantasan tidak hanya membutuhkan kekuatan di dalam negeri, tetapi juga kolaborasi dengan negara lain. Dalam upaya memberantas narkoba, koordinasi antarlembaga menjadi elemen yang tak bisa diabaikan.
Ricky Wakano berbagi pengalamannya tentang pentingnya sinergi saat menjalankan operasi di lapangan. “Saat operasi di tempat hiburan, saya selalu melibatkan TNI dan Polda. Koordinasi ini penting untuk mencegah gesekan dan memastikan operasi berjalan lancar,” ungkapnya.
Namun, ia juga mengkritik lemahnya sistem pengawasan internal Polri yang sering menjadi celah bagi oknum untuk menyalahgunakan kewenangan. “Ada institusi seperti Irwasda dan Propam yang tugasnya mengingatkan anggota nakal. Tapi, kalau fungsi ini tidak berjalan, oknum-oknum akan terus berulah,” katanya.