nasional

Walikota Blitar Buka Rembug Stunting, Launcing Program SIPKOI dan Cafe 

Selasa, 4 Oktober 2022 | 20:57 WIB
Walikota Blitar Santoso saat memberikan sambutan acara Rembug Stunting, Launcing Program Informasi SIPKOI dan Cafe Peduli Stunting

Blitar, NAWACITAPOST.COM,- Dinas Kesehatan Kota Blitar mengelar acara Rembung Stunting, Launcing Sistem Informasi Posyandu Kota Blitar ( SIPKOI ) dan Cafe Peduli Stunting Kota Blitar yang langsung dilauncing oleh Walikota Blitar Santoso didampingi Ketua DPRD Kota Blitar, Kapolres Blitar Kota dan Dandim. Ini merupakan terobosan Dinkes Kota Blitar untuk mencapai Zero Stunting Tahun 2024 di Kota Blitar, pada Selasa 4/10/2022.

Walikota Blitar Santoso mengatakan,sesuai target Presiden Republik Indonesia pada tahun 2024 angka Stunting mampu turun dari yang sekarang 24,4 menjadi 14. Maka dari itu Kita membuat terobosan sistem aplikasi informasi posyandu, agar dapat menekan angka Stunting. Khusus Kota Blitar di tahun 2024 harapannya bisa zero stunting makanya itu perlu terobosan-terobosan oleh Dinkes Kota Blitar.

Sistem informasi aplikasi SIPKOI merupakan pendataan perkembangan bayi atau balita peserta posyandu secara digital. Di sini petugas posyandu memasukkan data seperti tinggi badan, berat badan, lingkar kepala secara berkala, yang diunggah di aplikasi yang bisa di akses di gadged Andoid.

-


Dengan demikian Informasi Aplikasi SIPKOI ini membantu petugas dinas kesehatan memantau dan memprediksi siapa dan dimana yang berpotensi terkena stunting. Lantas dinas akan turun ke lapangan mengintervensi untuk menanggulangi stunting sejak dini, demi meminimalisir dampak stunting pada tumbuh kembang anak,"kata Walikota Santoso.

Ia menjelaskan, Cafe Peduli Stunting, merupakan cafe yang memberikan penyuluhan atau inovasi dalam mensosialisasikan stunting pada anak-anak remaja yang banyak sebagai tempat nongkrong bersama teman-temannya.

“Sekarang kita tahu Cafe itu tempat berkumpulnya anak-anak remaja. Anak remaja yang melakukan perkawinan diri, mereka belum siap secara mental untuk menghadapi kenyataan yang dialami, dan berdampak pada anak yang akan dilahirkan dari mereka.

-


Jadi melalui cafe-cafe ini kita memberikan penyuluhan-penyuluhan kepada remaja untuk menghindari Pernikahan Dini, yang mana ini juga termasuk salah satu faktor penyebab terjadinya stunting di samping kekurangan gizi asupan,” jelasnya.

Sementara, Kepala Dinas Kesehatan Kota Blitar, Dr Dharma Setiawan mengungkapkan jumlah stunting di Kota Blitar pada bulan timbang tahun 2021, dari 7000 balita ditemukan 416 yang stunting atau 5,3 persen. Sedang tahun 2022 dari 7000 sekian balita ditemukan yang stunting 450 atau 5,8 persen.

“Meskipun prevalensinya kecil, tapi kita segera duduk bersama-sama untuk bagaimana ketika ada stunting kita menghadapi kebijakan intervensi untuk kebaikan warga kita. Sehingga sesuai arahan Pak Walikota kita diminta membuat terobosan dengan aplikasi SIPKOI yang di-launching hari ini,” ujarnya.

-


Menurut dr Dharma, stunting rata-rata diketahui pada balita di usia 2 tahun. Pada saat diketahui stunting harus segera diberi penanganan khusus agar tidak berdampak buruk pada perkembangan anak. Sedang ciri-ciri stunting bisa dilihat dari tabel pertumbuhan anak yang biasanya di buku posyandu yang kini ditransformasi ke digital dengan SIPKOI sehingga petugas dinas bisa memantau perkembangan anak lebih cepat.

“Kalau sudah stunting usaha kita dalam memperbaikinya hanya 20 persen saja. Nanti anak yang stunting bisa pulih pertumbuhannya bisa gemuk atau tinggi, tapi yang paling berdampak pada perkembangan otaknya. Karena perkembangan otak berhenti pada usia 2 tahun, sehingga anak yang sudah kena stunting volume otaknya tidak bisa maksimal,” jelasnya.

Nah maka itu, stunting lebih baik untuk dicegah daripada diobati. Maka itu dengan diluncurkannya Cafe Peduli Stunting bisa memberi edukasi pada para remaja yang suka nongkrong di Kafe. Supaya bisa mengetahui faktor penyebab stunting dan diajak agar nanti ketika menikah dan mempunyai anak, anaknya tidak terkena stunting.

Dikatakannya, dari 48 kafe di Kota Blitar sudah 17 yang mendapat sosialisasi dari Dinkes Kota Blitar. Sedang dari 17 itu sudah 2 kafe yang sudah mengimplementasikan sosialisasi pencegahan stunting.

“Disini dijelaskan remaja putri tidak boleh anemia, lalu remaja putri yang sudah siap menikah dan ingin punya anak jangan sampai kekurangan asupan gizi saat hamil. Harapannya bisa melahirkan anak-anak sehat terbebas dari stunting,” tutupnya.

Penulis : Frins Maurins

Tags

Terkini