NAWACITAPOST. COM - Kementerian Agama (Kemenag) dan Bank Indonesia sukses menyelenggarakan Konferensi dan Pertemuan Tahunan World Zakat and Waqf Forum (WZWF) di Jakarta Convention Center. Acara yang digelar pada 1-2 November ini melibatkan peserta dari 43 negara dan merupakan bagian dari Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) dengan dukungan dari Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) dan Badan Wakaf Indonesia (BWI).
Forum ini bertujuan untuk mendorong pengelolaan zakat dan wakaf di level global dengan tema “Tatanan Global Zakat-Wakaf Baru: Komunitas Global yang Bersatu Berdasarkan Keadilan, Kasih Sayang, dan Kesejahteraan Bersama.”
Dalam sambutan pembukaannya, Menteri Agama Nasaruddin Umar menyampaikan harapannya agar forum ini memunculkan ide-ide baru yang dapat memaksimalkan zakat dan wakaf sebagai solusi nyata untuk tantangan sosial dan ekonomi global. “Kita perlu melihat zakat dan wakaf sebagai instrumen strategis untuk mengatasi berbagai tantangan dunia, mulai dari kemiskinan hingga kesenjangan sosial,” ujar Nasaruddin.
Nasaruddin juga menekankan pentingnya teknologi digital dalam mengelola zakat dan wakaf agar lebih transparan dan efektif. Teknologi, menurutnya, memungkinkan pengumpulan zakat secara lebih luas dan memastikan distribusinya tepat sasaran. “Dengan digitalisasi, kita bisa menjangkau lebih banyak orang dan mengelola dana zakat serta wakaf secara lebih produktif,” jelasnya.
Baca Juga: BRI Gelar Jambore Nasional Tim Elang, Tingkatkan Kapasitas dan Ketangguhan Relawan Hadapi Bencana
Selain itu, Menteri Agama menyoroti bonus demografi di Indonesia sebagai peluang besar untuk memberdayakan generasi muda melalui dana zakat dan wakaf. Ia menekankan bahwa dukungan pendidikan dan keterampilan untuk generasi muda melalui dana ini bisa menciptakan dampak besar dalam meningkatkan kesejahteraan dan mengentaskan kemiskinan di masa depan.
Untuk mendukung langkah tersebut, Kemenag telah mengembangkan empat program utama, yaitu Kampung Zakat, KUA Pemberdayaan Ekonomi Umat, Inkubasi Wakaf Produktif, dan Kota Wakaf. Program-program ini bertujuan untuk mengoptimalkan zakat dan wakaf sebagai sarana pemberdayaan ekonomi, sehingga tidak hanya dipandang sebagai ibadah, tetapi juga sebagai solusi konkret untuk pembangunan ekonomi masyarakat.
Di forum ini, Ketua BWI Kamaruddin Amin, yang juga menjabat sebagai Dirjen Bimas Islam, memperkenalkan Gerakan Indonesia Berwakaf. Dengan tiga pilar utama yakni inklusivitas, keberlanjutan, dan inovasi, gerakan ini menargetkan pengembangan aset wakaf nasional yang mencakup lebih dari 445 ribu lokasi wakaf di seluruh Indonesia, termasuk madrasah, masjid, dan kantor KUA.
Gerakan ini juga memprioritaskan pemanfaatan aset wakaf di sektor pendidikan, kesehatan, dan lingkungan. Menurut Kamaruddin, gerakan ini mencakup pendirian rumah sakit, pemberian beasiswa, dan inisiatif wakaf hijau untuk pelestarian alam. “Aset wakaf perlu kita manfaatkan secara optimal untuk mendukung kesejahteraan masyarakat yang lebih luas,” tambahnya.
Baca Juga: Bumi Serpong Damai (BSDE) Catat Laba Bersih Rp 2,7 Triliun di Kuartal III-2024
Dalam konferensi ini, inovasi dalam pengelolaan zakat dan wakaf juga menjadi topik utama, termasuk gagasan seperti wakaf korporasi dan wakaf saham. Inovasi-inovasi ini diharapkan dapat mendorong peran serta masyarakat, terutama generasi muda, dalam pengelolaan wakaf secara produktif.
Konferensi WZWF ini dihadiri pula oleh Menteri Agama Malaysia Mohd Na’im Mokhtar, dan didukung oleh sponsor-sponsor seperti Bank Mega Syariah, Bank CIMB Niaga Syariah, dan PT Paragon Technology and Innovation. Dengan pendekatan berbasis teknologi dan keterbukaan, diharapkan zakat dan wakaf bisa menjadi kekuatan baru yang bersifat inklusif, transparan, dan berkelanjutan dalam mendorong kesejahteraan global.