Saat ini, bagi dia sangat penting memberikan edukasi kesehatan mental disemua lini mulai dari pelajar umum bahkan santri.
“Ini sangat penting disemua lini, seakan kesehatan mental ada semua kaitannya dengan mental. Kita lebih kearah ke pendampingan mental santri,” jelas perempuan berusia 40 tahun, lulusan Psikologi Pascasarjana UGM Tahun 2011 ini.
Aktivis psikologi muda asal Kota Santri ini sudah melakukan pendampingan kesehatan mental diberbagai kelompok, terlebih di lembaga pendidikan dan asrama pesantren.
Baca Juga: Bupati Siak Alfedri Apresiasi Perkembangan Pesantren di Harlah ke-37 Ponpes Al Muttaqien
“Kalau pendampingan sudah kita lakukan seperti konseling atau edukasi ke asrama dan unit sekolah,” kata pengasuh asrama Roudotul Quran 3, Ponpes Darul Ulum tersebut.
Dalam konteks perlombaan penyiaran dan podcast ini, kedepan akan ada kompetisi duta Lapsidu, didalamnya akan menyiarkan tentang edukasi kesehatan mental.
“Kita juga kerjasama dengan lembaga kesehatan, nanti juga ada duta Lapsidu kaitannya dengan podcast lapsidu dan kaitannya dengan kesehatan mental,” pungkasnya.
Antusias para pelajar mengikuti kegiatan tersebut begitu tinggi, seperti yang dilakukan oleh Faris Mahardika (17) pelajar asal SMK Telekomunikasi Darul Ulum ini.
Pelajar asal Jakarta yang tinggal di Asrama RRC Pondok Induk Darul Ulum tersebut mempersiapkan diri untuk tampil maksimal dalam lomba penyiar podcast lebih dari dua minggu.
“Kesiapannya kurang lebih dari membuat teks sekitar dua mingguan lebih, karena mencari sesuai tema, setelahnya latihan penempatan masa temponya,” ujarnya.
Ia mengaku mengikuti kegiatan serupa sudah ketiga kalinya, dengan harapan kesempatan ini bisa menjadikannya juara. “Sudah tiga kali ini,” lanjutnya.
Bagi dia, kegiatan yang diinisiasi Lapsidu ini memang sebuah kesempatan emas yang harus diikuti, selain belajar juga bisa mengasah bakat prestasi.
“Ini menjadi ajang pembelajaran, belajar publik speaking,” pungkasnya.