Sidoarjo Nawacitapost - Sudah berjasa terhadap negara kita mulai dari masa masa perjuangan kemerdekaan sampai dengan masa pembangunan di kemerdekaan kita sama-sama tahu bapak ibu semua bahwa Muhammadiyah ini bergerak di bidang sosial termasuk di rumah sakit dan kalian juga membantu pemerintah dalam hal ini memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Dr H M Mamdan. dr. Sp. S (K) Derektur (RSSK) Menyatakan Saat Beri Sambutan. saya tidak bisa membayangkan jika tugas pemerintah ini semua dikerjakan oleh pemerintah tanpa ada bantuan dari masyarakat dalam hal ini organisasi seperti Muhammadiyah Sementara Jumlah rumah sakit di Jawa Timur aja melebihi rumah sakit pemerintah memiliki Kementerian Kesehatan kebutuhan kesehatan cuma punya 37 rumah sakit.
Rumah Sakit Muhammadiyah 37 sama gitu luar biasa dan tentu saja ini apa berkah buat kita semua dan saya yakin ketika doa pimpinan yang amanah mengelola suatu usaha Maka insya Allah itung-itungannya bukan itu-itungan dunia tapi untuk hitungan akhirat.
Saya sampaikan bahwa Mohon maaf Pak Menteri enggak bisa hadir karena beliau masih di Laos baru mendarat tapi sekitar jam 11.22 habis itu mimpin rapat mungkin juga besok
Pada kesempatan ini saya juga ingin menyampaikan beberapa hal yang mungkin nanti akan menjadi landasan daripada pengembangan Rumah Sakit ke depan yang pertama adalah tentang kelas bawah tingkat standar di mana sudah memutuskan bahwa ke depan paling banyak rumah sakit itu satu kamarnya 4 orang enggak boleh lebih dari itu hal ini kita ambil Kenapa karena kita berusaha untuk memberikan dan meningkatkan pelayanan kepada pasen bisa dibayangkan kalau kita lagi sakit dirawat di kamar yang banyak pasen.
Ke depan rumah sakit yang dibangun itu kamarnya paling banyak 4 tempat tidur dengan jarak tertentu dan kualitas tertentu dan dengan kamar mandi di dalam yang berikutnya adalah kebijakan Rumah Sakit berbasis kompetensi kedepan tujuan kami itu bukan kelas a b c dan d berdasarkan tempat tidur tapi rujukannya adalah berdasarkan kompetensi Jadi kalau misalnya Rumah Sakit Siti Khodijah ini bisa menyelenggarakan pelayanan kemudian bisa melayang menyelenggarakan.
kompetensi dasar maka dibayarnya juga dasar sama BPJS jadi nanti akan ada perubahan pola pembiayaan kedepannya yang harus dicermati oleh para direktur jadi kalau kita nanti tetapkan bahwa cek proses syarat kompetensinya. Undang-undang 17 tahun 2023 jadi nanti putusannya bukan kelas A b c dan d tapi menunjukkan berbasis kompetensi jadi masyarakat kita bisa langsung dari Puskesmas ke RS." Pungkasnya.
Sementara dr. Azhar Jaya SH. SKM. MARS Menyampaikan. Marilah kita berbangga bukan produk Indonesia saja. Muhammadiyah ini sudah memproduksi infus sendiri namanya Surya penak yang bernama pak ketua umum saya dapat laporan ternyata Jawa Timur malah Belum menggunakannya padahal seluruh Indonesia sudah menggunakan.
Sangat bagus Insyaallah harganya kompetitif kualitasnya di atas produk yang ada kenapa karena ini teknologi paling baru termasuk kemasannya pak ketua BBM kemasannya juga kemasan yang paling bagus dan lebih BPOM juga tidak menutupi semua jenis sudah mendapatkan kalau pasarnya Jawa Timur tidak bisa tembus ya kita tidak bisa ekspansi lagi.
Baru rumah sakit yang di kampus aja sudah bisa 5000 ya 5000 saya juga bayangkan waktu 30 di rumah sakit ini kalau masing-masing bisa Rp50.000 udah selesai lah itu sudah balik modal saat selesai sedang direktur yang hadir ibu-ibu dokter Pak Dokter direktur Rumah Sakit Muhammadiyah se -Jawa Timur Mohon segera.
Ini saya bukan pemasaran khusus segera di sandang kalau memang belum bisa 100% ya harus sudah paling enggak 25% 30% secara bertahap saya tahu mungkin juga rumah sakit sudah terikat kontrak dengan beberapa perusahaan debus tapi ini produktif Muhammadiyah di sini mohon maaf Bapak Ibu sekalian Saya senang sekali tadi menyampaikan bahwa nanti pelayanan itu berbasis kompetensi.
kompetisi sehat antar rumah sakit.
Pendidikan kedokteran berbasis rumah sakit terutamakan budaya Daerah Tertinggal itu saya kira sangat bagus dulu pahlawan nasional yang terkenal itu dokter tapi dokter jawa itu bukan Dokter beneran
kita punya namanya program pendidikan persiapan dokter jadi terutama dari daerah-daerah terpencil seperti Papua itu kemudian ikut cek di UMS secara Akademi tidak lulus tetapi potensi akan turunnya lulus TPA Kalau tpa-nya bagus itu kita paham kita beri kesempatan satu tahun untuk ngambil namanya yang persiapan dokter.
Daerah-daerah yang mendapatkan status apa universal dan favorit tapi kalau enggak ada kapasitas atau fasilitas tenaga dokter kurang makanya percepatan dokter itu harus segera dilakukan lebih bagus masuk sekolah persiapan dulu biar jadi nanti keluar istilah dokter.
Daerah juga punya tanggung jawab untuk mempercepat pengadaan fasilitas kesehatan kadang-kadang berlomba-lomba tapi lupa untuk menyiapkan fasilitas kesehatan pekerjaan."(**/ud)