Sandang, pangan dan papan pada dasarnya tidak terpisah; ketiganya membentuk kesatuan hidup manusia. Sandang tidak hanya soal pakaian, tetapi juga soal hidup yang baik (well being). Pangan tidak hanya soal makanan dan minuman, tetapi juga soal kesehatan raga dan jiwa. Papan bukan hanya soal rumah, tetapi juga soal mengelola ruang hidup bersama. Pemenuhan atas ketiganya adalah syarat minimal bagi kehidupan yang bermartabat. Martabat itu baru akan mengemuka jika kehidupan kita memberikan dampak baik pada semua, termasuk lingkungan alam sekitar. Semua ini terhubung satu sama lain: tidak ada pemenuhan atas sandang, pangan, dan papan, tanpa perwujudan tata hidup baru yang bermartabat, yang mengangkat derajat seisi dunia, yang memuliakan alam dan kearifan lokal. Perbaikan yang bersifat sektoral penting untuk dilakukan, tetapi tidak banyak artinya tanpa perubahan cara hidup.
Pandemi menghadirkan peluang untuk menggali kembali Cerlang Nusantara, yakni kearifan lokal yang membuat kita bertahan sebagai warga negeri kepulauan ini selama ribuan tahun. Kembali kita perlu menoleh pada praktik sosial vernakular yang terbukti menghasilkan tata hidup berkelanjutan. Lewat penggalian kembali itulah kita mengembalikan keseimbangan makrokosmik: pemberdayaan kearifan lokal sebagai pendekatan terpadu dari bawah untuk menjamin pemenuhan kebutuhan paling pokok manusia, sandang, pangan, papan. Inilah visi besar yang dibawa oleh Pekan Kebudayaan Nasional (PKN) 2021.
Gaya Hidup Baru, Mulai dari Sekarang
PKN 2021 adalah festival-dengan-misi: mengolah inspirasi cemerlang kearifan lokal untuk menjawab tantangan kekinian. Misi ini tercermin dalam keseluruhan rangkaian PKN 2021 dan memuncak pada tanggal 26 November 2021. Hari terakhir PKN 2021 diawali dengan tayangan tari di indonesiana.tv pukul 16.00 WIB dan pkn.id. Acara yang menghadirkan karya tari Poleng Bali oleh Ayu Laksmi ini mengangkat kearifan lokal dalam memaknai kebutuhan pangan masyarakat dan budaya gotong royong dalam praktik Subak. Semangat mengangkat kearifan lokal ini digarisbawahi kembali dalam tayangan sesudahnya, Cultural Fashion, yang menghadirkan khazanah batik dan songket. Tidak berhenti di situ, upaya mengangkat kearifan lokal dalam hidup sehari-hari juga mengemuka dalam program Icip-Icip Pangan yang mengenalkan cara mengolah masakan dengan gerabah dan tanah liat. Tayangan pertunjukkan budaya dari negara sahabat, Meksiko dan Tunisia, turut menyemarakkan dalam program Ragam Budaya Internasional.
Aneka kearifan lokal itu juga mengemuka dalam hal yang paling kita terima begitu saja tanpa kita pikirkan, seperti rumah yang kita tinggali. Inilah yang diangkat dalam program Di Dalam Indonesia dengan tajuk “Kearifan Lokal dalam Rumah Modern.” Lewat tontonan ini, kita dapat kembali mengapresiasi bagaimana kebudayaan Nusantara masih menetap bahkan dalam pola arsitektur modern yang kita jumpai sehari-hari. Demikian pula dengan pakaian yang kita gunakan sehari-hari. Inilah yang tergambar dalam tayangan “Selendang Sirat Serat,” sebuah film tari tentang khazanah serat Nusantara dengan tampilan visual yang apik.
Rangkaian kegiatan hari terakhir ini memuncak dalam acara penutupan yang mengangkat tema “Semesta di Belakang Rumah” pada pukul 19.30 WIB. Acara ini dikoreografikan dengan menggunakan anasir-anasir padi, jagung, beras dan properti pendukung lainnya. Pada prinsipnya, dalam mengartikulasikan aspek pangan, karya ini tidak memaknai pangan terbatas sebagai “kebutuhan untuk makan” saja, tetapi lebih dalam, yaitu perlunya menekankan perjalanan dari suatu hubungan antara manusia dengan alam. Acara ini kemudian dilanjutkan dengan konser interaktif, “Voice of Baceprot,” yang menghadirkan grup musik rock dengan semua personil perempuan. Sebagai penutup, tampil sebuah film dokumenter tentang “Ragam Arsitektur Nusantara.” Dengan sajian tentang aneka rancang bangun Nusantara, PKN 2021 meninggalkan pesan bagi kita bersama: perubahan gaya hidup baru dengan aneka inspirasi Cerlang Nusantara bisa dimulai dari saat ini.
(Kornelius Wau)