Jakarta, NAWACITAPOST - Menteri Luar Negeri Republik Indonesia (Menlu RI) Retno Lestari Priansari Marsudi, S.I.P., LL.M. melalui jumpa pers via zoom meeting Selasa (02/03/2021) Memaparkan Pertemuan informal ASEAN baru saja selesai dilakukan, dan dipimpin oleh Menlu Brunei Darussalam sebagai Ketua ASEAN. Pertemuan ini diadakan utamanya untuk membahas perkembangan situasi di Myanmar yang mengkhawatirkan, pungkas Retno.
Dalam kesempatan ini Retno juga mengingatkan kembali perihal pertemuan Presiden Republik Indonesia dan PM Malaysia di Jakarta tanggal 5 Februari 2021 bulan lalu, menilai pentingnya ASEAN bertemu
ASEAN untuk membantu mengatasi situasi ini.melakukan pendekatan kepada Ketua ASEAN dan berkonsultasi dengan semua negara ASEAN.U Untuk itulah, komunikasi intensif terus dilakukan Indonesia, antara lainm melaluishuttle diplomacy yang saya lakukan sejak dua minggu yang lalu. tandas Retno
Selain berkonsultasi dengan negara-negara ASEAN, Indonesia juga banyak sekali menerima komunikasi dan berkonsultasi dengan para Menlu negara lain, antara lain: AS, China, India, Jepang, Rok, Australia, UE, Inggris, Perancis, dan besok saya juga akan menerima telepon dari Menlu Selandia Baru. Komunikasi juga dilakukan dengan Sekjen PBB dan Utsus Sekjen PBB. Komunikasi dengan Utsus mengenai Myanmar saya lakukan secara lebih reguler. Pungkas Retno.
Pertemuan ASEAN, yang utamanya ditujukan untuk membahas situasi di Myanmar ini, sedianya akan dilakukan secara fisik. Namun mengingat situasi pandemi, maka disepakati pertemuan dilakukan secara virtual. Pungkas Retno
Dalam pertemuan ASEAN tadi, Indonesia menyampaikan pernyataan nasional hanya untuk satu isu, yaitu perkembangan di Myanmar. Dalam Pertemuan, Retno menyampaikan beberapa hal, antara lain; Indonesia sangat prihatin melihat meningkatnya kekerasan di Myanmar yang telah memakan korban. Situasi ini sangat mengkhawatirkan. Mengkhawatirkan, karena meningkatnya jatuhnya korban warga sipil, yang harus kehilangan nyawa dan mengalami luka-luka. Mengkhawatirkan, karena masih terus terjadinya penangkapan terhadapwarga sipil. Mengkhawatirkan, karena situasi ini dapat mengancam keberlangsungan transisi demokrasi. Mengkhawatirkan, karena jika tidak segera diselesaikan dengan baik maka akan dapat mengancam perdamaian dan keamanan kawasan. Retno juga menyampaikan bahwa semua negara anggota ASEAN, diharapkan paham akan hak dan kewajibannya yang jelas disebutkan di dalam Piagam ASEAN. Jelas Retno.
Tugas negara anggota ASEAN adalah menjalankan prinsip dan nilai-nilai yang tertera di dalam Piagam ASEAN, dalam sebuah keutuhan, in their entirety. Menghormati prinsip non-interference, adalah wajib. Dan dalam pernyataannya Retno menyampaikan bahwa mempunyai keyakinan tidak ada satu pun negara anggota ASEAN, yang memiliki intensi untuk melanggar prinsip non-interference.
Namun demikian, pada saat yang sama, menghormati dan menjalankan prinsip dan nilai lain dalam Piagam ASEAN, termasuk demokrasi, pungkas Retno . penghormatan terhadap hak asasi manusia, good governance, rule of law, dan constitutional government adalah sama pentingnya. tegas Retno.
Retno kembali menegaskan bahwa Nilai dan prinsip-prinsip yang di sebutkan diatas merupakan fondasi, merupakan dasar, merupakan platform, yang diperlukan ASEAN untuk dapat membangun Komunitas ASEAN. Pungkas Retno
Jika ASEAN gagal untuk menghormati dan menjalankan prinsip-prinsip tersebut, Indonesia khawatir ASEAN tidak akan mampu memberikan pelayanan maksimum kepada rakyatnya yang berarti cita-cita membangun Komunitas ASEAN juga akan terganggu. Tegas Retno
dalam pertemuan tersebut Retno juga menekankan tiga isu penting untuk menjadi perhatian, yaitu: Pertama, bagi Indonesia keselamatan dan kesejahteraan masyarakat Myanmar adalah prioritas nomor satu. Oleh karena itu, Indonesia mendesak security forces Myanmar untuk menahan diri dan tidak menggunakan kekuatan dan kekerasan.
Indonesia juga menekankan pentingnya akses kemanusiaan bagi semua orang yang memerlukan termasuk para tahanan politik. Indonesia yakin ASEAN akan dapat memainkan peran di dalam membantu keperluan kemanusiaan. ASEAN telah memiliki ASEAN Ad- Hoc Task Force for Rakhine State yang dapat diperkuat untuk menjalankan misi ini. Retno juga sampaikan, Sekjen ASEAN juga dapat menjajaki kerja sama kemanusiaan terkait kerja sama vaksin. Yang kedua, restorasi demokrasi kembali ke situasi normal harus terus didorong. Indonesia menegaskan keinginan, kepentingan dan suara rakyat Myanmar harus dihormati. Demokrasi menjamin kebebasan berpendapat. Demokrasi juga menuntut adanya komunikasi dan dialog. Dalam sejarahnya, Retno sampaikan ASEAN selalu mengutamakan dialog dalam menyelesaikan masalah. Kebiasaan dialog ini telah berkontribusi bagi keberlangsungan hidup ASEAN selama lebih dari 50 tahun. Untuk itu, Indonesia mendesak agar semua pihak terkait untuk memulai dialog dan komunikasi. Dan Kondisi yang kondusif bagi komunikasi dan dialog harus segera diciptakan termasuk melepaskan tahanan politik. Pungkas Retno
Komunikasi dan dialog internal antara sesama pemangku kepentingan di Myanmar tentunya selalu menjadi pilihan terbaik. Namun, Indonesia yakin bahwa ASEAN juga siap untuk memfasilitasi dialog tersebut jika diminta. Yang ketiga, perdamaian, stabilitas dan kesejahteraan kawasan harus terus dijaga. Rakyat ASEAN telah merasakan perdamaian, stabilitas, dan kesejahteraan selama puluhan tahun. Indonesia menekankan bahwa semua negara anggota ASEAN memiliki kewajiban untuk menjaga situasi ini. Jika kita gagal mempertahankan situasi ini, maka kita tidak akan dapat mewariskan perdamaian kepada anak dan cucu kita. tegas Retno
Di dalam pernyataan, Indonesia juga menekankan semua pilihan ada di tangan kita. Pilihan ada di tangan masing-masing negara anggota ASEAN. Dan pilihan juga ada di tangan ASEAN sebagai sebuah keluarga. Dan saat ini, di dalam pertemuan Retno juga menyampaikan, merupakan waktu yang tepat bagi ASEAN untuk menunjukkan ke rakyat ASEAN dan dunia makna dari mekanisme ASEAN, makna dari sentralitas ASEAN.
Dalam pernyataannya, Retno kembali menegaskan bahwa ASEAN bertemu untuk membahas dan mencari penyelesaian. Namun demikian, it takes two to tango. Keinginan dan niat baik ASEAN untuk membantu tidak akan dapat dijalankan jika Myanmar tidak membuka pintu bagi ASEAN. Itulah hal-hal yang tadi saya sampaikan dalam pertemuan informal ASEAN. stay healthy, stay strong and stay united. Tutup Retno