NAWACITAPOST.COM - Pada Jumat, 27 Mei 2022 lalu, Indonesia kehilangan sosok ulama kharismatik, Ahmad Syafii Maarif, yang akrab disapa Buya Syafii Maarif. Ia meninggal dunia setelah mengalami serangan jantung yang kedua kalinya.
Mengenal lebih jauh tentang sosok Buya Syafii Maarif, ia dilahirkan pada 31 Mei 1935 di Nagari Calau, Sumpur Kudus, Sumatra Barat. Ayahnya, Ma’rifah Rauf Datuk Rajo Malayu, adalah seorang kepala suku dan saudagar. Ibunya, Fathiyah, wafat ketika Ahmad Syafii masih berusia 18 bulan.
Pendidikan Buya Syafii Ma'arif dimulai di Sekolah Rakyat (SR) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) Muhammadiyah. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan di Universitas Cokroaminoto dan Universitas di Amerika Serikat. Gelar Master of Arts diraihnya dari Ohio University, Amerika Serikat (AS) pada 1979 dan gelar doktoralnya diperoleh dari University of Chicago di negara yang sama pada 1983.
Buya Syafii Maarif pernah menjabat sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah selama tujuh tahun, dari 1998 hingga 2005. Ia juga pernah menjabat sebagai Presiden World Conference on Religion for Peace (WCRP).
Baca Juga: Profil Buya Syafii Maarif: Sang Pemikir Moderat Islam
Di awal era reformasi, Buya Syafii Maarif aktif dalam gerakan moral anti korupsi. Gerakan moral tersebut dideklarasikan Oktober 2003. Dalam autobiografinya, Buya Syafii Maarif menulis mengenai hal itu.
Menurutnya, hari depan Indonesia akan tergantung kepada berhasil atau gagalnya bangsa ini melawan korupsi ini. Jika berhasil, ada harapan bahwa Indonesia masih punya masa depan. Sebaliknya, jika gagal, mungkin masih ada masa depan, tetapi sebuah masa depan yang gelap gulita.
Buya Syafii Maarif bukan hanya milik Persyarikatan Muhammadiyah, tetapi telah menjadi milik bangsa Indonesia. Ia punya reputasi sebagai guru bangsa. Pemikiran dan pandangan briliannya sering diminta oleh berbagai kalangan, mulai dari presiden, menteri dan pejabat pemerintah lainnya, akademisi, politisi maupun generasi muda harapan bangsa.
Ia adalah pribadi yang egaliter, tampil apa adanya, low profil tanpa pura-pura dan tanpa dibuat-buat. Buya Syafii Maarif tidak ingin diistimewakan. Dalam istilah tasawuf, almarhum orang yang qanaah dan zuhud terhadap kemewahan materi dan kehormatan duniawi.
Buya Syafii Maarif adalah figur intelektual muslim kontemporer yang mampu mempertautkan dunia pemikiran timur dan barat. Sebagai pemikir muslim moderat, ia tidak segan-segan melakukan autokritik secara bertanggungjawab terhadap kelemahan umat Islam dan negara-negara muslim.
Sampai usia lanjut, ia bahkan tidak lelah berpikir, mengemukakan pandangan kritis yang objektif dan mengutarakan kerisauan sembari memberi masukan di media massa. Petuah dan wasiat-wasiat Buya Syafii Maarif tersebar dalam puluhan buku hasil karyanya serta ratusan artikel di Harian Kompas, Republika serta publikasi Muhammadiyah. Karena itu, julukan sebagai guru bangsa dan “suluh bangsa” sangat layak disandangkan kepada Buya.
Sementara itu, di tengah keresahan masyarakat karena kebangkitan kelompok garis keras yang mengancam keutuhan bangsa, masih ada sejumlah tokoh yang memiliki komitmen untuk menjaga persatuan dan kebhinnekaan di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Salah satu tokoh itu adalah Romo Franz Magnis Suseno SJ.
Romo Franz Magnis Suseno lahir di keluarga bangsawan Jerman. Pada masa kecilnya, ia pernah tinggal di kamp pengungsian. Ketertarikan akan kehidupan beragama dan misionaris membawanya bergabung dengan Serikat Jesus (SJ), sehingga meninggalkan keluarga dan negaranya untuk menjadi misionaris. Pada Januari 1961, ia tiba di Jakarta.
Baca Juga: Bupati Karawang Aef bersama Forkopimda Lepas 17 Bus Mudik Gratis