nasional

Denny Siregar : Terawan Banyak Bekerja, Anies dan Rizal Ramli Banyak Teorinya

Jumat, 2 Oktober 2020 | 13:32 WIB
Jakarta, NAWACITAPOST- Pegiat media sosial Denny Siregar dalam tayangan TIMELINE obrolan malamnya di Chanel YOU TUBE - Cokro TV, 30 September 2020. Menyoroti acara Mata Nazwa dengan kursi kosong Menkes Terawan. Bahkan, bukan hanya itu saja dia mengupas  sosok Terawan, Yang sebelum jadi Menkes. IDI pada 2018 memprotes penyembuhan terapi cuci otak ala dokter Terawan yang tidak ilmiah itu katanya. Bahkan IDI menulis surat kepada Jokowi untuk tidak melantik Terawan. Surat dari IDI  justru membuat keyakinan mantan Gubernur Jakarta tetap melantik Terawan sebagai Menkes. Terkait kesehatan lainnya, Denny menyoroti tentang mahalnya biaya obat, permanian dokter, farmasi, dan membengkaknya BPJS dan rumah sakit. Berikut penuturannya. 

Denny Siregar jadi ingat cerita temannya dulu waktu ibunda Jokowi meninggal. Malamnya dia (teman Denny) melayat dan ketemu Jokowi, yang disampingnya pas ada Menkes Terawan. Temanku nanya ke Menkes Terawan.

"Kok jarang muncul dipublik sekarang", begitu teman Denny berrtanya.  Eh yang jawab malah pak Jokowi. Kalau dia muncul dipublik, apapun yang dia katakan pasti diplintir media dan di bully. Saya minta Menkes tidak perlu Tampil lagi supaya tidak ada keributan dan bisa fokus pada penanganan kesehatan.

Menteri Terawan Agus Putranto memang kontroversial. Tahun 2018 lalu, dia diserang ikatan dokter Indonesia atau IDI, karena terapi cuci otak yang dilakukannya. Terapi cuci otak dr. Terawan ini memang beda dengan yang selama ini dilakukan oleh para dokter, ia melakukan flushing supaya peredaran darah dikepala lancar. Ternyata apa yang dilakukannya, selama ini menyelamatkan banyak nyawa sehingga banyak pejabat dan tokoh yang berobat ke Terawan daripada ke luar negeri? Salah Satunya adalah AM Hendropriyono, mantan Kepala BIN. Hendro ada dibarisan terdepan membela dr. Terawan dari serangan Ikatan Dokter Indonesia

Dengar-dengar sih proses cuci oral dr Terawan biayanya murah. Kalau selama jni untuk penyembuhan stroke dirumah ataupun di Dokter pasien bisa habis ratusan juta rupiah. Dr. Terawan cuman mematok biaya operasionalnya 10 juta rupiah saja.

Mungkin itulah yang membuat Dokter terawatn dibilang melanggar mode Etik kedokteran karena dituding pengobatannya tidak ilmiah lucunya di saat IDI ramai-ramai menyerang Dokter Terawan.  Jokowi mengangkatnya sebagai menteri kesehatan, sudah Menkesnya kontroversial.

Ternyata presidennya lebih kontroversial. Jokowi merasa cocok dengan pandangan dr Terawan terhadap mahalnya biaya rumah sakit, dan obat-obatan di Indonesia saat ini yang sangat memberatkan BPJS. Pandangan bahwa ada kongkalikong antara dokter,  dan pihak rumah sakit dengan pabrik farmasi yang menyebabkan obat-obatan di Indonesia mahal ini ternyata bukan hoax.

KPK pernah mengusut transaksi sampai 600 miliar rupiah dari pabrik farmasi Kepada para dokter supaya mereka mau menjual obat-obatan ke pasien dari hasil suap menyuap antara pabrik farmasi dengan dokter inilah harga obat-obatan di Indonesia jadi melambung tinggi serta mencekik bukan saja pasien tapi juga pemerintah yang menyelenggarakan BPJS

Bersama Jokowi, dr Terawan bicara tentang Pengobatan tradisional yang murah dari tumbuhan yang banyak disekitar kita. Jokowi tertarik, sehingga menunjuknya sebagai Menteri Kesehatan. Tugasnya adalah memberantas mafia obat, rumah sakit sekaligus membangun sistem Kesehatan di negeri ini supaya orang luar mau berobat ke sini (Indonesia).

Tujuannya kalau di Indonesia jadi rujukan orang luar untuk berobat, maka Indonesia akan mendapat tumbuhan devisa besar. Selama ini seperti kita tahu banyak orang berobat ke Malaysia. Dan Singapura karena tak percaya dengan dokter-dokter di Indonesia yang bukannya bikin sembuh, tapi malah berlama-lama dirumah sakit, dan menguras habis kantong mereka.

Ya mungkin,  ada dokter, serta rumah sakit yang punya prinsip pegawai kelurahan kalau bisa dipersulit, kenapa mesti mudah? Dan perang besar kongkalikong antara dokter rumah sakit, juga pabrik farmasi pun dimulai. Soalnya tak lama kemudian virus corona yang berawal dari China menyebar ke seluruh dunia, banyak negara panik.

Dan menutup dirinya dari dunia luar. istilah kerennya lockdown. Sama dengan di Indonesia situasi panik pun dimulai Dan banyak menyerukan supaya Indonesia lockdown seperti negara-negara di Eropa.

Dokter Terawan yang sudah menjadi Menteri Kesehatan itulah yang menyarankan kepada presiden Jokowi supaya Indonesia tidak lockdown. Sebab, kalau lockdown,  maka akan muncul ketakutan yang luar biasa, dan ketakutan itu menurunkan daya tahan tumbuhan. Jika imun kita lemah,  virus malah makin menyebar luas, kata Terawan.

Jokowi pun setuju, maka Lockdown tidak dilaksanakan. Bukan saja buat ekonomi negara. Tapi ternyata juga buat kesehatan. Rumah sakit akan dibanjiri oleh para pasien sedangkan fasilitas belum siap Obat virus juga belum ditemukan kepanikan kepemilikan akan menyebar dan situasi bisa jadi chaos karena tekanan politik dari mana-mana.

Cara dokter Terawan membangun ketenangan pada masyarakat ini mirip dengan cara dia dia menghibur pasien - pasiennya, supaya jangan takut dan jangan panik "gak apa2 tokh nduk gak apa-apa, tenang aja" itulah kalimat yang kerap diucapak Terawan kepada pasiennya. Ternyata, model menerangkan seperti ini ternyata diplintir oleh media.
Dilahap oleh para pendukung lockdown dengan persepsi Terawan meremehkan virus corona.

Habislah dia di bully. Dilecehkan dimana-mana yang berimbas juga serangan pada istana.  Komunikasi yang dipakai Terawan ke pasien-pasiennya ternyata tidak cocok dengan situasi covid ini. Padahal maksudnya benar apapun yang di katakan dokter Terawan langsung diplintir oleh media-medja yang punya prinsip bad news is a good news.

Urusannya tentu saja urusan rating Dan banyaknya pembaca yang mampir ke website Dan program tv mereka. Dr Terawan bukan saja diserang oleh para Dokter sejawatnya, tapi  oleh ikan hiu bernama Media. Tujuan media tentu demi kepentingan mereka. Presiden Jokowi, tidak terpancing beliau lalu menyelamatkan Dr. Terawan supaya bergerak di belakang layar saja.

Mantan Gubernur Jakarta ini menyiapkan gugus tugas lain yang bisa menjadi garda terdepan untuk berhadapan dengan media Dan Menteri kesehatan pun manut (nurut). Terawan sibuk bergerak Dan berkoordinasi dengan banyak pihak di belakang layar saja.

Sebenarnya tipikal Presiden seperti Jokowi model seperti Dr. Terawan inilah model kesukaannya sebagai Menteri tidak banyak bicara lebih banyak bekerja yang tidak sibuk cari panggung di media.

Ya model yang sama seperti Menteri nya yang lain seperti Basuki Menteri PUPR,  Sri mulyani, dan Luhut Binsar Panjaitan. Beda dengan mantan Menteri lainnya yang dipecat karena lebih sibuk di teori tak beres kerjanya. Mereka itu lebih suka cari panggung di media seperti Anies Baswedan, dan Rizal Ramly.

Model seperti mereka pasti gak lama menjabat langusung ditendang ke luar angkasa jadi dari penjelasan ini kita harus paham kenapa Menkes memutuskan untuk tidak datang ke acara mata Nazwa. Sebab. apapun yang dia katakan di sana pasti diplintir Dan membuat keributan baru yang tidak penting.

Dengar-dengar sih dia sudah mengutus Dirjennya untuk bicara tetapi Nazwa Shihab menolak mungkin karena di program itu harus ada nilai jual sensasinya bukan nilai informasinya.

Akhirnya Nazwa main drama dengan kursi kosong yang jadi ribut itu. Memang sih orang lebih suka bahas sensasinya daripada informasi itu sendiri. itulah kenapa drama Nazwa dengan kursi kosong menjadi pembicaraan tersendiri.

Tags

Terkini