Baca Juga : Jokowi Ahok Basmi Mafia Migas Sembari Buktikan Solar Tak Lagi Impor
Ketika masa hukumannya akan berakhir 3 bulan lagi, dan secara hukum Ahok bisa bebas dengan status wajib lapor. Dia menolak opsi itu, dia memilih menyelesaikan hukumannya. Ternyata pilihan itu, tepat. Jika dia memilih bebas sebelum waktunya, walaupun hal tersebut diatur dan dijamin secara hukum. Maka, bisa dibayangkan penolakan dan hujatan akan terus menggema dan hingar bingar suara-suara anti Ahok akan terus berkumandang. Mafud MD menyetujui langkah mantan Gubernur Jakarta untuk menyelesaikan sisa masa tahananya secara tuntas.
Sampai akhirnya dia menghirup udara bebas di luar Mako Brimob. Benih-benih penolakan muncul lagi, ketika anti Ahok yang digerakan itu, mendengar Ahok bakal didapuk ‘memberesi’ Pertamina. Tepat Nopember 2020 kabar itu benar, bahwa Ahok resmi ditunjuk sebagai Komisaris Utama (Komut) Pertamina oleh Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Tohir. Penolakan pun diterimanya, bukan saja terdengar keras dan kencang, aksi demo pun di gelar di depan kantor Pertamina dan kantor Menteri BUMN, spanduk demopun bertebaran, namun hasilnya tetap sama, Ahok tetap sebagai Komut Pertamina.
Selain yang menolak, ada juga yang mendukung Ahok sebagai Komut. Mantan Wakil Ketua DPR yang juga Wakil Ketua Umum Partai Gelora Fahri Hamzah berpendapat, kalau soal talenta, saya termasuk yang menganggap BUMN itu memerlukan Saudara Ahok. Karena ada beberapa institusi di BUMN itu yang memerlukan orang keras memerlukan orang tegas.
Jika tahun lalu Pertamina peringkatnya 178 melewati perusahaan Alibaba Grup milik Jack Ma dan raksasa AS, Facebook milik Mark Zuckerberg. Bisa jadi, di era Ahok ini lompatannya bisa mencapai 100 kata pengamat pengamat energi Mamit Setiawan. Pertamina di era Ahok lompatannya sangat tinggi, secara internal semakin kompak, secara eksternal BUMN ini samakin diperhitungkan dunia.