Baca Juga : DERADIKALISASI DAN MENG-INDONESIA-KAN SEL TIDUR ISIS
Bisa jadi dalam pemahaman teroris, seperti karyono, dan karyono-karyono lainnya terpatri bahwa tujuan utama mereka sebenarnya adalah mati secara syahid. Entah dengan cara apapun, menyerang, meledakan diri dengan bom adalah aksi yang tujuannya dialamatkan kepada aparat negara dan simbol-simbol negara yang bertentangan dengan ajaran mereka termasuk dengan sesama umat yang haluannya berbeda dengannya. Teroris seperti Karyono tak memikirkan efek dari tindakannya yang bisa merugikan keluarganya termasuk orang tua.
Berkaca dari peristiwa ini sebenarnya sel-sel teroris tak pernah ada kata tidur, mereka selalu bangun dan siap melakukan sepak terjangnya. Pemikiran sederhana dan tidak bisa dibantahkan oleh siapapun adalah rekan-rekannya yang mati harus ada pembalasan, dan pembalasan pasti terjadi, pikirnya. Ya, kesempatan di pandemi korona, serta memasuki new normal celah masuknya sel-sel teroris bangun dan bergerak dari kelengahan aparat kepolisian,bahkan aparat ini menjadi sasaran utamanya. Mereka tahu dan sadar bahwa keberadaan Densus 88 selalu mengintai, mengawasi menangkap dan melumpuhkan kegiatan mereka ini Densus 88 ini tak pernah tidur selalu bergerak dan bergerak ke sarang teroris.
Maka, perlu kita apresiasi kepada Densus 88 yang dengan cepat telah berhasil melumpuhkan dan mematikan teroris. Dana besar yang digelontorkan pemerintah bersama Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk Densus 88 tak perlu kita perdebatkan, sebab sudah terbukti pasukan khusus penanggulangan teroris ini telah nyata berbuat untuk keamanan Indonesia dari ancaman teroris.
Kembali ke Karyono teroris yang mati ditembak polisi, bahwa dia ini pernah menjalani hukuman di salah satu lapas di Sumatera, jelas adik Karyono bernama Rohman. Rohman melanjutkan, almarhum terakhir bertemu dengan keluarga pada 2019 saat diantar pulang oleh petugas setelah menjalani hukuman. " Setelah itu tidak pernah berhubungan," imbuh Rohman saat serah terima jenazah dari kepolisian di kamar jenazah RS Bhayangkara Semarang, (ronaldy)