NAWACITAPOST.COM - Borobudur Peace & Prosperity Festival (BPF) 2025 sukses digelar pada 10 hingga 12 Mei 2025 di Taman Aksobhya, kawasan Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah (Jateng). Festival ini merupakan bagian dari rangkaian perayaan Hari Raya Waisak dan telah memasuki tahun keempat penyelenggaraan oleh Yayasan Meccaya Surya Prakasa.
Selama tiga hari, festival menghadirkan serangkaian acara yang menggabungkan nilai spiritual, pelestarian lingkungan, dan keberagaman budaya Indonesia. Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar hadir dan menyampaikan komitmen kuat terhadap inovasi berkelanjutan melalui kehadiran mesin daur ulang botol plastik atau RPM (Reverse Vending Machine).
Mesin ini merupakan hasil kolaborasi antara Meccaya, Plasticpay, dan InJourney yang ditempatkan di kawasan Borobudur. Menurut Irene, keberadaan mesin ini membawa harapan besar bagi masa depan yang lebih hijau.
“Ini enggak cuman penempatan sebuah mesin tapi ini penempatan sebuah harapan untuk masa depan negeri ini, untuk alam dan lingkungan, dan juga untuk kemajuan daripada masyarakat setempat,” ujar Irene.
Ia menambahkan bahwa inisiatif ini tak hanya berfokus pada pengelolaan sampah plastik, tetapi juga pada pemberdayaan ekonomi lokal melalui pelatihan pembuatan produk dari bahan daur ulang. Ia berharap produk-produk tersebut memiliki nilai ekonomi dan daya tarik visual agar dapat diterima masyarakat luas.
“Produk ini harus bernilai ekonomi, kemudian juga harus keren. Kalau keren, otomatis orang akan suka untuk membeli barangnya,” lanjutnya.
Menurut Irene, penempatan mesin RPM tidak berhenti di Borobudur saja. Ada rencana untuk memperluas ke wilayah lain seperti Prambanan. Kolaborasi dengan masyarakat dan pelaku UMKM menjadi aspek penting dalam memperluas dampak sosial dari proyek ini.
Rangkaian BPF 2025 juga mencakup kegiatan Bumi Mandala yang digelar di Candi Ngawen. Acara ini menampilkan perpaduan spiritualitas dan kebudayaan yang melibatkan berbagai komunitas, termasuk perwakilan dari Keraton. Irene menilai kegiatan ini sebagai simbol toleransi dan harmoni antaragama di Indonesia.
“Buat saya ini merupakan satu simbolik, yang mana melting pot ya. Jadi menurut saya ini satu kebanggaan juga bagi Indonesia, sembari kita menjalankan spiritualnya, kita sembari menjalankan ritual keagamaan sebagai umat Buddha bahwa kita ini mempererat bangsa sebagai warga negara Indonesia,” tuturnya.
Ia juga menyoroti penampilan tari-tarian tradisional Indonesia yang menggambarkan karakter tokoh-tokoh seperti Hanoman, Kerajaan, dan simbol-simbol kehidupan, yang menjadi media untuk menyampaikan nilai budaya kepada publik. Irene menyebut bahwa kehadiran unsur-unsur alam seperti tanah, api, dan udara dalam festival ini menjadikan acara terasa sangat universal.
“Nah dari Pak Wamen (Wamen Kebudayaan Giring Ganesha) sendiri kan agamanya Muslim, namun saya juga Buddha. Jadi kita berdua itu toleransi sangat amat tinggi sekali. Karena yang penting adalah kehidupan manusia dan bagaimana kita menjadi seorang manusia yang banyak memanusiakan manusia,” katanya.
Pada malam hari, festival dilanjutkan dengan acara penerbangan lampion yang sarat makna harapan. Irene menyampaikan doanya untuk masa depan Indonesia. “Kalau ditanyain doanya apa? Indonesia Emas. Karena cuma satu sisi kita dan kita harus bareng-bareng, bergotong-royong, bukan hanya dari pemerintah, dari seluruh lapisan masyarakat,” ucapnya.