nasional

Ditolak Masyarakat Aceh, Siapa Sebenarnya Etnis Rohingya?

Jumat, 17 November 2023 | 09:04 WIB



Etnis Rohingya merupakan komunitas muslim yang menetap di wilayah Rakhine (Arakan), Myanmar Barat, berbatasan langsung dengan Bangladesh. Asal-usul kata "Rohingya" berasal dari "Rohai" atau "Roshangee", merujuk pada penduduk muslim Rohang atau Roshang, sebutan untuk daerah sebelum dinamai Arakan.





Sejarah kelam dimulai pada tahun 1942 ketika pasukan pro-Inggris melakukan pembantaian terhadap muslim Rohingya. Lebih dari 100 ribu orang tewas dan ribuan desa hancur dalam tragedi ini, menyisakan trauma dan ketakutan yang mendalam bagi komunitas Rohingya.





Etnis Muslim di Myanmar tersebar dalam beberapa kelompok berdasarkan suku bangsa dan keturunan. Di antara empat kelompok besar muslim Myanmar, terdapat kelompok keturunan Rohingya atau Arakan yang menjadi sorotan utama dalam perdebatan mengenai hak-hak dan identitas.





Secara fisik, suku Rohingya memiliki ciri khas tertentu, seperti tulang pipi yang tidak begitu keras, mata yang tidak terlalu sipit, hidung yang tidak terlalu pesek, tubuh yang tinggi, dan kulit berwarna gelap, bahkan ada yang memiliki kulit kemerahan, namun tidak kekuningan.





Sejarah panjang komunitas Rohingya di wilayah Arakan dimulai pada abad ke-14, saat Kerajaan Mrauk U dipimpin oleh raja Buddhis bernama Narameikhla atau Min Saw Mun. Narameikhla, yang sebelumnya diasingkan di kesultanan Bengal, mendapatkan takhta di Arakan atas bantuan Sultan Bengal bernama Nasirudin.





Ketika Narameikhla memerintah, dia mengadopsi agama Islam, mengucapkan syahadat, dan berganti nama menjadi Ssuleiman Shah. Ia membawa orang-orang Bengali untuk membantu administrasi pemerintahannya, membentuk komunitas muslim pertama di Arakan.





Pada tahun 1420, Arakan memproklamirkan diri sebagai kerajaan Islam merdeka di bawah pemerintahan Raja Suleiman Shah. Namun, kekuasaan Islam di Arakan berakhir saat Raja Myanmar kembali menguasai wilayah ini pada tahun 1784. Kemudian, pada tahun 1824, Arakan menjadi koloni Inggris, menyebabkan populasi muslim di wilayah tersebut mulai berkurang secara perlahan.





Perjuangan dan tragedi yang dialami oleh etnis Rohingya selama berabad-abad menciptakan identitas yang unik namun juga penuh dengan konflik dan penindasan. Pengusiran, kekerasan, dan pembatasan hak-hak dasar telah menyebabkan komunitas ini menjadi manusia tanpa negara, terpinggirkan dari hak kewarganegaraan di Myanmar dan hidup dalam keterbatasan hak-hak asasi.

Halaman:

Tags

Terkini