"Beliau ini (Ketut Supena) adalah seorang Hindu yang kuliah di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan menjadi lulusan terbaik dan tercepat. Nah ketika saya tarik di Kemensos, saya minta beliau untuk belajar bisnis karena di Kemensos ada program pahlawan ekonomi sebagai upaya pemberdayaan penerima manfaat bansos untuk mandiri, dan ternyata beliau bisa," sambungnya.
Capain Ketut, menurut Mensos adalah hal yang harus ditiru oleh para mahasiswa. Mereka diharapkan bisa terpacu dengan apa yang telah dicapai Ketut dan diharapkan tidak pantang menyerah.
"Kalian pasti bisa. Jangan menyerah," ujar Mensos penuh semangat.
Tak ingin semangat para mahasiswa redup dan terlihat sangat antusias mendengarkan paparan, Mensos juga mengkomparasi dengan kelompok disabilitas yang sukses dalam berbagai bidang. Mensos bercerita bahwa banyak penyandang disabilitas yang sukses. Meski kondisi tubuh memiliki keterbatasan namun mereka bisa maksimal dalam karyanya.
"Saya punya beberapa kelompok penyandang disabilitas fisik seperti tuna netra, tuna wicara, tuna rungu maupun disabilitas fisik yang lain. Namun ketika mereka saya tampilkan dalam acara internsional, mereka luar biasa dan mendapatkan apresiasi yang juga luar biasa," lanjutnya.
Karenanya, Mensos berkeinginan agar para mahasiswa yang tergabung dalam KMHDI ini bisa mencontoh apa yang dikemukakan dan sebagai pemacu semangat untuk sukses.
"Kalian harus bersyukur karena terlahir sempurna. Kalian harus bisa, jangan menunggu tapi harus berbuat. Jangan berharap untuk menunggu pekerjaan dan berdiam, harus berusaha. Seperti PENA yang mengangkat derajat banyak penerima bansos untuk mandiri dan merdeka. Mereka tidak lagi sebagai penerima bansos tapi bisa menyediakan lapangan pekerjaan. Kalian pasti bisa," pungkas Mensos yang disambut gemuruh tepuk tangan para mahasiswa yang antusias mendengarkan paparan dan kisah inspiratif dari Menteri Sosial Tri Rismaharini.