Kamis, 4 Juni 2026

Indonesia Miliki Komitmen Kuat Bebas Penyakit TBC pada 2030

Photo Author
Ahmad, Nawacita Post
- Selasa, 26 September 2023 | 11:55 WIB

NAWACITApost.com - Pemerintah Indonesia dan Polandia bekerja sama dengan Stop TB Partnership dan Stop TB Partnership Indonesia (STPI) menyelenggarakan acara sampingan bertajuk “Berinvestasi dengan Benar, Berinvestasi Sekarang untuk Mengakhiri TB”. Acara sampingan ini diadakan satu hari sebelum pertemuan Konferensi Tingkat Tinggi Tuberkulosis (HLM TB) Majelis Umum PBB (UN GA) ke-78, atau tepatnya pada Kamis, 21 September 2023.

Acara ini dibuka oleh Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi dan closing remarks oleh Menteri Kesehatan Budi Sadikin. Kegiatan ini bertujuan untuk membangun antusiasme pemangku kepentingan global dan nasional untuk dapat berkolaborasi dan menjalankan pembicaraan demi mewujudkan tujuan akhir, yaitu mengakhiri TB pada tahun 2030.

Diskusi panel dimoderatori oleh Ketua Yayasan STPI, Nurul Luntungan, bersama Kepala Direktur Pengendalian dan Penanggulangan TBC Kementerian Kesehatan Afrika Selatan, Norbert Ndjeka; Dirjen Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Kementerian Kesehatan Indonesia, Maxi Rein Rondonuwu; Direktur Biro Kerjasama Internasional dari Kementerian Kesehatan Polandia, Katarzyna Drążek-Laskowska; Anggota Dewan Orang TBC, Timur Abdullaev; Direktur Program TBC Global Organisasi Kesehatan Dunia, Tereza Kasaeva.

Pada diskusi ini, Maxi Rein menyatakan, investasi pada penelitian dan pengembangan alat-alat baru dalam memajukan diagnosis, pengobatan, dan vaksinasi TBC akan mempercepat upaya pemberantasan TBC. "Investasi untuk pelayanan kesehatan primer dan penguatan sistem kesehatan, dengan program TBC yang terintegrasi, juga harus menjamin keberlanjutan dan ketahanan dalam menyediakan layanan TBC yang berpusat pada pasien berkualitas tinggi," kata Maxi Rein, dikutip Selasa (26/9/2023).

Diskusi panel menekankan bahwa mengakhiri TBC memerlukan investasi komprehensif dan keterlibatan masyarakat yang bermakna mulai dari penelitian dan pengembangan untuk inovasi, pengujian, pengobatan, dan pencegahan TBC yang efektif dalam skala besar.

Pada hari yang sama, sebuah side event juga dilaksanakan oleh Stop TB Partnership berkolaborasi dengan CDC U.S. dan CDC Foundation. Side event ini menyoroti kebutuhan penting akan inovasi dan peningkatan kegiatan pencegahan berbasis bukti yang ada, termasuk Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) untuk mencapai tujuan akhir TB.

Diskusi panel tersebut mengeksplorasi peluang, hambatan, atau tantangan yang belum dimanfaatkan dalam peningkatan TPT global, dan kesenjangan yang dapat menghambat upaya tersebut. Maxi Rein mengungkapkan, lebih dari 22.000 orang Indonesia menggunakan TPT pada tahun 2022, atau hanya 1% dari 1,3 juta populasi sasaran.

"Saat ini, Indonesia memprioritaskan TPT untuk ODHA, semua usia yang pernah kontak dengan penderita TBC di rumah, dan kelompok risiko lainnya, terutama jika mereka memiliki kondisi imunokompromais dan penyakit penyerta," jelas dia.

Maxi Rein Rondonuwu menambahkan, Indonesia telah melakukan dan memberikan komitmen tertingginya untuk pengendalian TBC melalui peraturan presiden no 67/ 2021 tentang penanggulangan TBC. Perpres tersebut menekankan pentingnya kolaborasi multisectoral dan lintas sector.

"Pada tahun 2022 Indonesia berhasil mencapai 75% kasus dari target yang harus ditemukan. Negara kita telah menjadi yang terdepan dalam inovasi pembiayaan layanan kesehatan, partisipasi dalam uji klinis, dan peluncuran rejimen BpaL yang inovatif. Pencapaian ini tidak hanya meningkatkan kemampuan kita dalam memerangi TBC namun juga menjadi bukti kekuatan kolaborasi dan inovasi," kata dia.

Editor: Ahmad

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini