Otoritas Jasa Keuangan juga melakukan penelusuran aset Adrian Gunadi dan pihak-pihak terkait untuk dilakukan pemblokiran sesuai ketentuan perundang-undangan. Berdasarkan catatan perusahaan, tingkat wanprestasi 90 hari Investree mencapai 12,58 persen. Per 2 Januari 2024, total pinjaman outstanding perusahaan mencapai Rp 444,69 miliar.
3. PT Sariwangi Agricultural Estate Agency
PT Sariwangi Agricultural Estate Agency merupakan perusahaan teh yang mengalami kebangkrutan pada 2018. Perusahaan yang terkenal dengan produk teh celupnya ini dinyatakan pailit karena tidak mampu membayar cicilan kredit utang ke Bank ICBC Indonesia, dengan total utang mencapai US$ 20.505.166 atau sekitar Rp 316 miliar.
Sariwangi sebenarnya masih memiliki brand yang cukup kuat, namun masalah finansial membuat perusahaan ini tidak mampu bertahan. Unilever, yang membeli merek Sariwangi pada 1989, tetap menggunakan brand tersebut namun tidak mengambil alih perusahaan Sariwangi Agricultural Estate Agency.
Baca Juga: BMN Desak Presiden Prabowo Tutup Jalur Diplomasi dengan Malaysia Usai Penembakan PMI
4. Nyonya Meneer
Nyonya Meneer, perusahaan jamu legendaris di Indonesia, juga mengalami kebangkrutan pada 2017. Meskipun sempat menjadi salah satu produsen jamu terbesar di Indonesia, perusahaan ini akhirnya dinyatakan pailit oleh Pengadilan Negeri Semarang. Faktor yang menyebabkan kebangkrutan Nyonya Meneer antara lain perselisihan internal keluarga, beban utang yang besar, serta kurangnya inovasi dalam produk-produknya.
Pada 8 Juni 2015, Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang antara debitur dan 35 kreditur dinyatakan sah oleh hakim di Pengadilan Niaga Semarang. Salah satu kreditur, Hendrianto Bambang Santoso, menggugat pailit perusahaan ini karena tidak menyelesaikan utang sesuai proposal perdamaian. Dari total utang Rp 7,04 miliar, Hendrianto hanya menerima Rp 118 juta, yang menyebabkan gugatan pailit diajukan ke pengadilan.
5. Net Visi Media
Tahun 2024 menjadi senjakala bagi PT Net Visi Media Tbk yang menghadapi tantangan finansial hingga mengalami kebangkrutan. Net Visi Media Tbk adalah perusahaan yang bergerak di bidang industri media, dengan lini usaha meliputi penyiaran televisi, produksi konten, manajemen artis, dan media digital.
Net Visi Media mengalami penurunan pendapatan sejak 2018 dengan beban utang yang terus meningkat, hingga kesulitan memenuhi kewajiban finansial. Sebagai langkah penyelamatan, saham NETV diakuisisi oleh MD Entertainment sebanyak 80 persen dengan investasi sebesar Rp 559,1 miliar. Kini, perusahaan ini beroperasi dengan nama PT MDTV Media Technologies Tbk.
Baca Juga: Viral! Bocah di Nias Selatan Dianiaya Keluarga hingga Cacat
Sejumlah perusahaan besar yang dulunya berjaya kini harus menghadapi kenyataan pahit kebangkrutan akibat berbagai faktor. Salah satu penyebab utama adalah beban utang yang besar, yang pada akhirnya tidak mampu dibayar dan menyebabkan runtuhnya bisnis mereka. Fenomena ini menjadi pelajaran bagi dunia bisnis bahwa stabilitas keuangan dan adaptasi terhadap perkembangan pasar sangatlah penting untuk keberlangsungan usaha.
Artikel Terkait
Indikasi Penyerobotan Lahan Oleh PT LBI, Kades Gabus Diduga Terlibat dan Menjadi Tergugat II
Update Banjir, Imbas Hujan Deras 35 RT dan 4 Ruas Jalan di Jakarta Masih Terendam Banjir
Miris! Bocah 10 Tahun di Nias Diduga Dianiaya Keluarga Sendiri, Kaki Sampai Patah dan Bengkok
Belalang dan Ulat Sagu Diusulkan Jadi Menu Makanan Bergizi Gratis
Perkuat Komitmen Raih WBBM, Lapas Kelas IIA Ambon Gelar Penandatanganan Pakta Integritas dan Komitmen Bersama