Kamis, 4 Juni 2026

Staf Menteri Agama Sampaikan Tiga Hal Penting di Acara Ditjen Bimas Kristen

Photo Author
Ronaldy, Nawacita Post
- Rabu, 12 Juli 2023 | 11:51 WIB
Koordinator Staf Khusus Menteri Agama Dr. Adung Abdul Rochman, MA  diapit peserta kegiatan Koordinasi Rencana Program dan Anggaran Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen Pusat dan Daerah tahun 2024, Bogor, Selasa (11/7/2023).
Koordinator Staf Khusus Menteri Agama Dr. Adung Abdul Rochman, MA diapit peserta kegiatan Koordinasi Rencana Program dan Anggaran Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen Pusat dan Daerah tahun 2024, Bogor, Selasa (11/7/2023).

NAWACITApost.com - Anggaran fungsi agama di Kementerian Agama masih sangat kecil, hanya 0,35 persen dari total keseluruhan APBN, jelas Koordinator Staf Khusus Menteri Agama Dr. Adung Abdul Rochman, MA  yang turut memberikan arahan dalam kegiatan Koordinasi Rencana Program dan Anggaran Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen Pusat dan Daerah tahun 2024, Bogor, Selasa (11/7/2023).

“Pemerintah maupun DPR sudah berusaha untuk meningkatkan anggaran fungsi agama, namun tetap tidak ada kenaikan yang signifikan dan sampai saat ini kita masih terus mengupayakan kenaikan anggaran tersebut,” terang Gus Adung.

-
Koordinator Staf Khusus Menteri Agama Dr. Adung Abdul Rochman, MA yang turut memberikan arahan dalam kegiatan Koordinasi Rencana Program dan Anggaran Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen Pusat dan Daerah tahun 2024, Bogor, Selasa (11/7/2023). Foto Humas DItjen Bimas Kristen.

“Dengan anggaran yang sangat sedikit sementara tantangan yang sangat besar, maka kita perlu menentukan prioritas program yang harus didahulukan,” tambahnya.

Lebih lanjut disampaikan, ada tiga hal penting yang harus kita perhatian dalam penyusunan anggaran tahun 2024.

“Pertama, dalam banyak kesempatan Gusmen selalu menyampaikan bahwa saat ini kita sedang memasuki tahun politik, seperti tahun-tahun lalu, para politisi lebih mudah mengkaitkan agama dengan kepentingan politik mereka,” kata Gus Adung.

“Isu agama dijadikan sebagai senjata politik karena dari semua keragaman yang dimiliki bangsa kita, isu agama adalah isu yang paling menyentuh emosi masyarakat. Keragaman yang lain tidak begitu kuat untuk dijadikan sebagai isu yang sengaja dibuat untuk mengoyak emosi masyarakat, tapi isu agama masih menjadi isu yang sangat sensitive,” sambungnya.

Lanjut Gus Adung, Gusmen dengan tegas mengatakan bahwa meskipun pemilu bukan menjadi ranah kita, tapi kita harus memperhatikan isu ini dengan seksama dan tantangan ini harus diwujudkan dalam DIPA Tahun Anggaran 2024.

Kedua, Kristen memiliki banyak denominasi, dan sebagian besar umat beragama tidak paham kalau memang umat Kristen membutuhkan gereja karena denominasinya yang berbeda.

“Kita perlu mengingatkan publik dan memberi pemahaman kepada masyarakat karena pemahaman seperti itu sangat penting untuk diketahui oleh masyarakat dan dalam penyusunan program dan anggaran, kita harus bisa menjawab tantangan-tantangan itu,” pesan Gus Adung.

Ketiga,salah satu program prioritas Kementerian Agama saat ini adalah Moderasi Beragama. Kenapa program ini muncul dan harus digaungkan oleh kita semua?

“Sebagian besar masyarakat Indonesia merasa diri sendiri yang paling benar dan mengklaim kebenaran akan tafsir agamanya, penyebab kedua adalah adanya masyarakat yang beragama secara ekstrim dan penyebab ketiga, karena adanya fenomena masyarakat kita yang memiliki komitmen yang bertentangan dengan paham mereka, sehingga harus diganti,” terang Gus Adung.

“Tiga fenomena ini bukan hanya terjadi di salah satu kelompok agama tertentu, tapi muncul di semua agama, sehingga melalui penyusunan anggaran, kita harus memaksimalkan anggaran yang terbatas ini untuk bisa menyelesaikan masalah ataupun persoalan yang terjadi,” pungkas Gus Adung.

 

 

Editor: Ronaldy

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini