NAWACITApost.com - Antraks merupakan penyakit serius yang dapat menyerang manusia dan hewan. Di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, terdapat kekhawatiran bahwa penularan antraks pada manusia terkait dengan praktik tradisi brandu yang dilakukan oleh warga setempat.
Brandu, juga dikenal sebagai Porak, adalah tradisi pemotongan hewan ternak yang sakit atau mati, di mana dagingnya kemudian dijual untuk mengurangi kerugian yang dialami oleh pemilik ternak.
Menurut Kepala Bidang Kesehatan Hewan di Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Gunungkidul, Retno Widyastuti, tradisi brandu menjadi salah satu penyebab utama penyebaran antraks.
Retno menjelaskan bahwa tradisi ini sudah ada sejak lama di Gunungkidul dan pada dasarnya memiliki tujuan baik, yaitu membantu pemilik ternak yang mengalami kematian agar tidak menderita kerugian yang terlalu besar. Namun, tradisi tersebut juga membawa potensi bahaya terhadap kesehatan karena hewan yang mati bisa menularkan penyakit.
Kepala Desa Candirejo, Renik David Warisman, menjelaskan bahwa sebelum munculnya kasus antraks di Dusun Jati, beberapa warga setempat memang melakukan brandu. Menurut David, tradisi ini adalah bentuk simpati masyarakat terhadap tetangga yang mengalami kematian ternak.
Menurutnya, bagi para petani, ternak adalah tabungan mereka. Oleh karena itu, jika ternak mati, itu dianggap sebagai musibah. Tradisi brandu dilakukan untuk meringankan beban pemilik ternak yang sedang mengalami musibah.
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Gunungkidul Wibawati Wulandari mengatakan, penularan antraks di Dusun Jati diduga terjadi karena warga mengonsumsi daging sapi yang sakit. Dia menambahkan, ada beberapa ekor sapi di Dusun Jati yang sakit, lalu mati.
Namun, warga tetap nekat mengonsumsi daging sapi yang telah mati itu. Bahkan, Wibawati menyebut, ada sapi yang mati dan telah dikubur sesuai dengan prosedur standar operasi (SOP). Namun, bangkainya digali lagi. Dagingnya lalu dikonsumsi sebagian masyarakat.
Wakil Bupati Gunungkidul Heri Susanto mengatakan, pihaknya berulang kali meminta masyarakat tidak mengonsumsi daging hewan ternak yang sakit atau mati. Namun, dia mengakui, masih ada warga yang melakukan brandu karena merasa sayang dengan hewan ternak yang mati.