NAWACITAPOST.COM - Kebakaran di Los Angeles menjadi salah satu bencana termahal dalam sejarah Amerika Serikat. Dengan kerugian yang diperkirakan melampaui USD135 miliar (setara dengan Rp2.185 triliun), angka ini sekitar sepertiga dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia tahun 2025 yang direncanakan sebesar Rp3.005,1 triliun.
Besarnya kerugian ini menempatkan peristiwa tersebut sebagai salah satu kebakaran hutan paling mahal dalam sejarah modern AS. Kepala Meteorologi AccuWeather, Jonathan Porter, mengungkapkan bahwa kebakaran ini merupakan hasil dari api yang bergerak cepat dan dipicu oleh angin kencang, menciptakan skala kehancuran yang mengejutkan.
BBC melaporkan bahwa estimasi awal dari AccuWeather menunjukkan total kerugian bahkan dapat melampaui USD150 miliar. Kebakaran besar seperti Palisades dan Eaton telah menghancurkan lebih dari 10.000 bangunan, menyebabkan ribuan orang kehilangan tempat tinggal dan memaksa evakuasi besar-besaran.
Industri asuransi juga menghadapi tantangan besar, dengan estimasi kerugian yang diasuransikan mencapai lebih dari USD8 miliar. Menurut analis dari Morningstar dan JP Morgan, kebakaran ini dapat memperburuk masalah yang dihadapi sektor asuransi, termasuk meningkatnya premi dan menurunnya opsi pertanggungan di wilayah berisiko tinggi.
Hal ini telah mendorong banyak warga untuk menggunakan program asuransi yang didukung pemerintah negara bagian California, meskipun perlindungannya seringkali terbatas dan lebih mahal. Data menunjukkan bahwa jumlah polis dalam program Fair California meningkat dua kali lipat dalam tiga tahun terakhir, mencerminkan tingginya kebutuhan akan perlindungan asuransi.
Selain dampak langsung pada properti, kebakaran ini juga memberikan tekanan besar pada keuangan publik, kesehatan masyarakat, dan sektor pariwisata. Denise Rappmund, analis senior di Moody's Ratings, mencatat bahwa kebakaran ini akan berdampak negatif pada pasar asuransi negara bagian secara keseluruhan. Biaya pemulihan yang terus meningkat kemungkinan akan mendorong kenaikan premi dan mengurangi aksesibilitas asuransi properti.
Baca Juga: 5 Kebakaran Terbesar dalam Sejarah Dunia
Sebagai perbandingan, angka kerugian ini jauh melampaui bantuan Amerika Serikat kepada Israel selama perang di Gaza yang dimulai pada 7 Oktober 2023, yang mencapai USD17,95 miliar. Bantuan tersebut meliputi dukungan militer dan logistik untuk mendukung operasi di wilayah tersebut.
Konflik Gaza sendiri menyebabkan dampak yang tidak kalah tragis, baik secara finansial maupun kemanusiaan. Lebih dari 42.000 orang dilaporkan tewas di Gaza akibat serangan Israel, sementara korban di pihak Israel mencapai lebih dari 1.200 orang.
Artikel Terkait
Kebenaran Tak Akan Mati: Refleksi 52 Tahun Perjuangan PDI Perjuangan
Anggaran Rp81 Miliar Tertahan, Pembebasan Lahan Taman Pelangi, 2025 Wajib Diselesaikan
Kapolda Sumbar Ikuti Razia Cegah Tawuran dan Balap Liar
Dikelola 17 WNA Vietnam, Klinik Kecantikan Ilegal di Jakarta Raup Omzet Puluhan Juta
Muhaimin: Sinergi KSH, RT, dan RW Kunci Keberhasilan Pembangunan Surabaya