Jakarta, NAWACITAPOST.com - Setelah 3 tahun mudik menerapkan pembatasan, tahun ini setelah pemerintah mengakhiri PPKM dan tidak lagi mewajibkan memakai masker diruang terbuka, antusias dan animo masyarakat melakukan mudik pada Idul Fitri 1444 H tahun ini sangat tinggi.
Baca Juga : Hasil Musda ke – IX DKI Jakarta Merekomendasikan Sarman Simanjorang Calon Ketua Umum DPP HIPPI
Mudik normal tahun ini, membuat jumlah pemudik melonjak tinggi seiring dengan ekonomi masyarakat yang semakin membaik memasuki pra pandemic covid 19 sehingga biaya perjalanan sudah sangat mumpuni.
Data Kementerian Perhubungan menyebutkan bahwa jumlah pemudik tahun ini naik sebesar 14,2% mencapai 123,8 juta orang dibanding tahun lalu sebesar 85,5 juta orang.
Disamping mudik ada juga warga yang melakukan perjalanan wisata keluarga keberbagai destinasi wisata di Indonesia, mengingat masa libur bersama yang demikian panjang sehingga dapat dimanfaatkan untuk menikmati kebersamaan keluarga.
Dengan jumlah pemudik yang demikian besar maka dipastikan ekonomi daerah yang menjadi tujuan mudik akan bergairah dan mengalami pertumbuhan yang signifikan.
Asumsi perputaran uang selama libur Idul Fitri 1444 H mencapai 92,3 triliun tersebar diseluruh pelosok tanah air.
Jumlah tersebut dihitung dari jumlah pemudik sebesar 123,8 juta orang atau setara dengan 30.752.000 keluarga.
Jika setiap keluarga membawa uang rata rata Rp.3.000.000 maka perputaran uangnya sebesar tersebut diatas. Ini dihitung rata rata paling minimal, masih berpeluang diatas itu.
Perputaran uang tersebut akan akan menyebar disektor usaha transportasi darat (bus, rental, kereta api, mobil pribadi, motor), laut (kapal laut) dan udara (pesawat), kuliner, hotel/penginapan, restoran, kafe, destinasi wisata, UKM makanan khas daerah dan penjual souvenir, warung dan toko di daerah dan berbagai produk unggulan daerah.
Mudik Idul Fitri tahun ini terdiri atas mudik antar Kabupaten/kota, antar provinsi,antar pulau dan antar wilayah. Antar wilayah maksudnya dari Kawasan Barat ke Tengah dan Timur atau sebaliknya.
Perputaran uang tersebut di dominasi di Pulau Jawa yaitu Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Yogyakarta, Banten dan Jabodetabek sebesar 62,5% dengan jumlah pemudik sebanyak 77,3 juta orang atau setara 19.325.000 keluarga. Sisanya akan menyebar ke Sumatera, Kalimantan, Bali/NTB, Sulawesi, NTT, Maluku dan Papua.
Dengan potensi perputaran yang cukup besar tersebut dipastikan ekonomi daerah akan produktif dan bergairah dan akan mampu meningkatkan konsumsi rumah tangga dan memberikan kontribusi yang besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional dan daerah sehingga target pertumbuhan ekonomi kuartal I 2023 sebesar 5% diharapkan dapat tercapai.
Pemerintah Daerah sendiri juga akan mendapatkan kenaikan Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang berasal dari pajak hotel, restoran, café, retribusi masuk destinasi wisata dan lain-lain, selama musim libur Idul Fitri ini.
Diharapkan Pemerintah Daerah dapat membantu kelancaran arus mudik dan memastikan para pengusaha di daerah tujuan tidak menaikkan harga yang jorjoran yang membuat para pemudik enggan membelanjakan uangnya.
Seperti tarif masuk ke lokasi wisata, tarif hotel/penginapan, harga makanan/minuman dan harga makanan khas daerah atau oleh oleh,diharapkan tidak mengalami kenaikan yang memberatkan konsumen.
Pelaku usaha di daerah tujuan mudik harus dapat menciptakan pelayanan yang berkesan dan menyenangkans sehingga para pemudik tidak ragu membelanjakan uangnya selama liburan.
Disamping perputaran tersebut diatas beberapa daerah juga akan mendapatkan perputaran uang tambahan dari kiriman TKI dari luar negeri atau Remitansi yang juga mengalami kenaikan menjelang Idul Fitri 1444 H. Kiriman TKI tersebut kepada keluarganya di tanah air guna persiapan perayaan Idul Fitri, yang jumlahnya diperkirakan mengalami kenaikan.
Sepuluh provinsi pengirim TKI paling banyak dan akan mendapatkan kiriman remitansi dari para TKI antara lain ; Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Nusa Tenggara Barat, Lampung, Bali, Sumut, Banten, Jogyakarta dan DKI Jakarta.
Sampai dengan tahun 2021 jumlah TKI yang bekerja diluar Negeri mencapai 3,2 juta orang, jika para TKI tersebut mengirimkan uang lebaran kepada keluarganya rata rata 5 juta rupiah maka jumlah remintasi diperkirakan mencapai 16 triliun rupiah.
Sebagai gambaran dana remitansi TKI pada sepanjang tahun 2021 mencapai 130 triliun rupiah. Bank Indonesia telah mempersiapkan uang tunai sebanyak 195 triliun untuk ditukarkan dengan berbagai pecahan untuk memperlancar masyarakat untuk melakukan transaksi selama liburan Idul Fitri.
Ditengah tekanan kondisi ekonomi global yang tidak pasti, momentum Idul Fitri tahun ini sangat strategis mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional dan meningkatkan geliat ekonomi di seluruh tanah air dimasa transisi menuju endemi covid 19.
Kita sangat bersyukur bahwa setiap tahun Indonesia memiliki budaya mudik merayakan Idul Fitri bersama keluarga dikampung halaman dan menjadikan sebagai perputaran uang terbesar di Indonesia yang diperkirakan mencapai 25% dalam setahun.
Dan momentum Idul Fitri ini sangat strategis menggerakkan perputaran roda ekonomi nasional dan menopang pertumbuhan ekonomi dan konsumsi rumah tangga.
Semoga mudik tahun ini berjalan lancar, aman, meriah dan penuh kenangan serta semarak merayakan hari kemenangan Idul Fitri 1444 H tahun 2023. Idul Fitri lancar ekonomi moncer
*SARMAN SIMANJORANG (Direktur Eksekutif Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (APKASI)) dan Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia Bidang Pengembangan Otonomi Daerah