Foto Imam Surau Suluk Desa Sontang Memperlihatkan Pinggiran Sungai Batang Lubuh Kepada Wartawan.
Rohul, NAWACITAPOST.COM - Kondisi tebing di Sungai Batang Lubuh yang berlokasi di Desa Sontang, Kecamatan Bonai Darussalam, Kabupaten Rokan Hulu (Rohul) sudah sangat memperihatinkan.
-
Dari pantauan di lokasi, jika dibiarkan berlarut-larut tidak diperhatikan dari sekarang, maka tebing tersebut akan runtuh digerus arus air sungai yang membelah sepanjang wilayah Kabupaten negeri seribu suluk itu.
Runtuhnya tebing tersebut akan sangat berdampak terhadap masyarakat setempat. Pasalnya, di pinggir sungai tersebut masih ada belasan rumah warga. Selain itu, di lokasi tersebut juga ada Surau Suluk Syeh Muhammad Kayo yang menjadi tempat masyarakat untuk menjalankan ibadah, letaknya hanya sekitar 10 meter dari pinggir Sungai.
Salah satu dampak yang mungkin terjadi adalah akan robohnya rumah warga dan Surau Suluk Syeh Muhammad Kayo tersebut. Pasalnya, runtuhan tanah di pinggir sungai tersebut, dari tahun ke tahun semakin meluas.
Dampak lain yang mungkin terjadi adalah runtuhnya jembatan yang berlokasi di Jalan raya Kecamatan Bonai Darussalam yang merupakan penghubung Kabupaten Rokan Hulu ke Kabupaten Bengkalis.
Imam Surau Suluk Syeh Muhammad Kayo Abu Bakar mengaku bahwa kondisi hampir runtuhnya pemukiman warga dan Surau Suluk di Desa Sontang tersebut sudah terjadi sejak beberapa tahun silam.
"Yang paling parah itu sejak dua tahun terakhir, ketika air meluap, maka pinggir Sungai akan terus tergerus. Kita khawatir jika dibiarkan terus-menerus akan runtuh pemukiman warga dan surau suluk ini," kata Abu Bakar, Senin (27/2/2023).
Melihat kondisi itu, Abu Bakar berharap kepada pemerintah agar dibangunkan tembok penahan tebing (Turap), agar bisa menahan tanah di pinggir supaya tidak tergerus oleh air.
Harapan yang sama juga disampaikan oleh Ustad Abdul Gani. Dimana, sebagai salah seorang jamaah di Surau Suluk Syeh Muhammad Kayo tersebut, dirinya juga berharap dibangunkan turap untuk mempertahankan kondisi Surau Suluk tersebut.
"Harapan kami cuma dibangunkan turap. Agar tanah di pinggir sungai tidak tergerus air," kata Abdul Gani yang merupakan guru ngaji di Surau Suluk tersebut.
Terpisah, Kepala Desa Sontang Zulfahrianto, SE mengaku bahwa pemerintah Desa mendukung apa yang menjadi permintaan masyarakat terkait pembangunan turap penahan tebing di pinggir sungai yang letaknya hanya kurang lebih 15 meter dari lokasi bangunan Surau Suluk Syeh Muhammad Kayo tersebut.
Namun diakuinya, dengan kondisi keuangan Desa yang peruntukannya dan jumlahnya juga terbatas, mustahil rasanya bisa diarahkan untuk pembangunan turap pinggir Sungai yang panjangnya itu mencapai lebih kurang 250 meter tersebut.
"Oleh sebab itu, kami meminta pemerintah yang punya anggaran besar agar membangunkan turap penahan tebing itu. Pasalnya, jika dibiarkan berlarut-larut, maka tidak menutup kemungkinan akan berdampak tidak baik terhadap bangunan Surau Suluk yang bersejarah itu," ssbutnya.
Pria yang akrab disapa Anto Sontang itu juga mengaku selain bangunan Surau Suluk itu, juga ada jalan yang sudah mulai tergerus air sungai. Bahkan, saat ini sudah tidak bisa dilalui lagi. Sementara, jalan tersdbut merupakan akses jamaah menuju suarau suluk terssbut.
Dirinya mengharapkan kepada pemerintah Kabupaten dan Provinsi Riau agar menyempatkan diri untuk mebinjau lokasi Surau Suluk yang kondisinya sangat mengkhawatirkan tersebut.
"Surau Suluk ini sangat bersejarah. Di sekitarnya sudah ada pemakaman Syeh Muhammad Kayo yang merupakan pendiri dari surau suluk tersebut. Untuk itu, besar harapan kami agar Pemerintah mau membangun turap penahan tebih di Sungai tersebut,"harapnya.
Rls/Fahrin Waruwu