Kamis, 4 Juni 2026

Ma'ruf Amin Tolak Tambahan 2 Provinsi di Papua: Selesaikan Dulu yang Ada

Photo Author
safrianasyahra, Nawacita Post
- Kamis, 22 Desember 2022 | 15:45 WIB

Jakarta, NAWACITAPOST.COM - Wakil Presiden KH.Ma'ruf Amin menolak usulan dari sejumlah masyarakat di Papua dan Papua Barat ketika dirinya berkunjung ke sejumlah kota di daerah tersebut beberapa waktu lalu. Di sana, Wapres Kiai Ma'ruf menyebut ada permintaan dari masyarakat setempat untuk menambah dua provinsi lagi, satu di Papua dan satu di Papua Barat.

Baca Juga: Wapres Ma'ruf Amin: Ibu adalah Kunci Peradaban Bangsa 

"Saya bilang kita selesaikan dulu yang sudah ada, kita bangun dulu dengan baik," ujar Kiai Ma'ruf dalam keterangan pers di Jakarta, Selasa (20/12/2022) malam.

Sebelumnya, DPR juga mengesahkan UU Provinsi Papua Selatan, Provinsi Papua Tengah, dan Papua Pegunungan Tengah, pada 30 Juni. Ini adalah pemekaran dari Provinsi Papua. Kemudian pada 17 November, DPR mengesahkan lagi Provinsi Papua Barat Daya, hasil pemekaran dari Provinsi Papua Barat. Sehingga saat ini Indonesia memiliki 38 provinsi.

Terakhir pada 8 Desember, Presiden Joko Widodo resmi meneken Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2022 tentang Pembentukan Provinsi Papua Barat Daya, daerah baru yang merupakan hasil pemekaran dari Provinsi Papua Barat. Dalam poin pertimbangan, UU ini dibuat untuk pemerataan pembangunan di berbagai daerah kota yang ada di Papua Barat Daya.

"(Serta) untuk mengangkat harkat dan martabat Orang Asli Papua," demikian poin pertimbangan dalam UU tersebut. Beleid ini diteken Jokowi pada 8 Desember 2022 dan diundangkan pada hari yang sama.

Pendekatan Humanis

Adapun penjelasan soal usulan provinsi baru di Papua dan Papua Barat disampaikan KH.Ma'ruf ketika berbicara tentang pendekatan humanis dalam menangani kekerasan di Papua. Pendekatan humanis ini adalah janji Panglima TNI Laksamana Yudo Margono.

Kiai Ma'ruf meminta Panglima TNI Yudo Margono untuk lebih tegas dalam menghadapi Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Papua. Ma'ruf menyebut sikap lebih tegas ini memang banyak disuarakan oleh berbagai pihak ke pemerintah. "Untuk menjaga dan melindungi masyarakat Papua, walau hanya di daerah tertentu saja," kata dia.

Janji pendekatan humanis Panglima TNI, kata Ma'ruf, sebenarnya juga jadi komitmen pemerintah dalam berbagai rapat koordinasi tentang Papua. Pemerintah terus berkomitmen menghadapi masalah kekerasan di Papua dengan pendekatan teritorial dan hukum.

"Tetapi karena banyaknya, masih adanya, kekerasan-kekerasan yang dilakukan oleh KKB, mungkin ada langkah-langkah yang lebih tegas lagi," kata Kiai Ma'ruf.

Meski demikian, Ketua Badan Pengarah Badan Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua itu, tidak sepakat kalau frasa yang digunakan adalah kekerasan di Papua. Sebab, kekerasan tidak terjadi di seluruh Papua.

"Hanya di daerah tertentu saja," kata dia. Walau kekerasan hanya di daerah tertentu saja, Kiai Ma'ruf menyebut tindakan lebih tegas tetap harus dilakukan untuk menghadapi KKB.

Mantan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini berkaca pada perjalanan 5 hari yang dilakukannya ke sejumlah kota di Papua baru-baru ini. Dari Jayapura, Merauke, Timika, Kaimana, hingga Biak. Tapi alih-alih menjelaskan kondisi keamanan di daerah yang dikunjungi, Kiai Ma'ruf malah menyinggung aspirasi untuk provinsi baru.

Editor: safrianasyahra

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini