Minggu, 19 Juli 2026

Peningkatan Kasus PTM pada Anak, Pemerintah Diminta Perkuat Pengawasan dan Edukasi  

Photo Author
Ahmad, Nawacita Post
- Senin, 21 Oktober 2024 | 16:11 WIB
Ilustrasi jajanan anak.  (X)
Ilustrasi jajanan anak. (X)

 

NAWACITAPOST.COM - Kasus Penyakit Tidak Menular (PTM) yang semakin banyak terjadi pada anak-anak hingga dewasa muda kian mengkhawatirkan masyarakat. Salah satu yang menjadi sorotan adalah meningkatnya kasus gagal ginjal pada anak, di mana 60 anak harus menjalani cuci darah sepanjang tahun 2024 di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta.

Penyebab utama yang diduga berperan besar adalah gaya hidup yang makin terbiasa dengan konsumsi makanan olahan (processing food). Dr Rosyanne Kushargina, pakar gizi dari Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), mengungkapkan bahwa pengawasan terhadap makanan yang beredar di pasaran dan regulasi terkait belum sepenuhnya efektif.

Ia menekankan pentingnya peran pemerintah dalam melakukan edukasi kepada masyarakat untuk mencegah kasus PTM terus bertambah. "Pemerintah memang sudah membuat regulasi mengenai pangan yang aman dan ada Badan POM yang bertugas mengawasi. Namun, selain regulasi, peran penting pemerintah adalah memberikan edukasi yang menyeluruh kepada masyarakat," ujar Rosyanne, dikutip Senin (21/10/2024).

Baca Juga: Lengkap! Berikut Susunan Kabinet Merah Putih Prabowo-Gibran  

Selain mengandalkan pemerintah, Dr. Rosyanne menyebut bahwa kolaborasi berbagai pihak sangat diperlukan dalam menangani lonjakan kasus PTM. Menurutnya, edukasi tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, melainkan juga tenaga kesehatan, akademisi, dan masyarakat luas.

"Tenaga kesehatan dan akademisi harus bersama-sama memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang gaya hidup sehat. Ini adalah tugas bersama," tegasnya.

Ia menambahkan bahwa produk makanan olahan pada dasarnya aman jika dikonsumsi secara wajar. Namun, konsumsi berlebihan, terutama yang mengandung zat tambahan seperti pengawet, pemanis buatan, dan natrium, dapat memicu gangguan kesehatan.

Salah satu contoh yang sering diabaikan adalah camilan anak-anak yang kaya akan natrium, seperti snack jenis ciki. "Processing food dan pasti di dalamnya ada ya selain kandungan gizinya pasti juga ada bahan tambahan pangan ya, ada pengawetnya, ada pemanis, ada pemanis buatan, dan lain sebagainya,” tutur Rosyanne.

Baca Juga: Perbandingan Jumlah Menteri Kabinet Prabowo-Gibran dengan Negara-Negara ASEAN  

Selain natrium, ia juga menyoroti pentingnya masyarakat memahami kandungan dalam makanan olahan yang biasa dikonsumsi sehari-hari. Rosyanne menjelaskan bahwa pengawet dan pemanis buatan dalam makanan olahan jika dikonsumsi secara terus-menerus dapat memicu munculnya PTM.

"Selain itu natrium juga harus diperhatikan. kalau kita lihat cemilan sekarang ya chiki dan lain sebagainya, anak-anak pasti suka chiki yang gurih manis,” ujar Rosyanne.

Oleh karena itu, pemerintah diharapkan lebih aktif dalam mempromosikan pola makan sehat dan mengatur konsumsi makanan yang tidak aman bagi anak-anak. Rosyanne juga menyampaikan pandangannya terkait Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 28 Tahun 2024, khususnya pasal 33 yang melarang promosi susu formula.

Ia menjelaskan bahwa aturan tersebut tidak sepenuhnya melarang penggunaan susu formula, melainkan promosi susu formula untuk bayi di bawah enam bulan yang harus dibatasi.

Halaman:

Editor: Ahmad

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini