NAWACITAPOST.COM - Menteri Luar Negeri RI, Retno Marsudi, mengonfirmasi bahwa dua personel Tentara Nasional Indonesia (TNI) terluka akibat serangan Israel di Lebanon Selatan, Kamis (10/10) malam waktu setempat. Serangan tersebut menyasar markas pasukan penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Lebanon, UNIFIL, di Naqoura, sebuah area yang dikenal sebagai "blue line" di perbatasan Lebanon-Israel.
Kedua prajurit tersebut segera mendapatkan perawatan medis dan saat ini berada dalam kondisi baik. "Dua prajurit TNI yang tergabung dalam UNIFIL mengalami luka ringan saat menjalankan tugas pemantauan di menara pengawas di markas kontingen Indonesia," ujar Retno, dikutip Jumat (11/10/2024).
Serangan Israel ini menambah ketegangan di kawasan yang telah lama menjadi titik konflik. Berdasarkan informasi yang diperoleh, tembakan tersebut berasal dari tank Merkava milik Pasukan Pertahanan Israel (IDF). UNIFIL melaporkan bahwa serangan tersebut turut merusak kendaraan dan sistem komunikasi mereka. Tak hanya itu, drone militer Israel juga terdeteksi terbang di sekitar posisi UNIFIL, bahkan mendekati pintu masuk bunker tempat para pasukan berlindung.
Serangan yang dilakukan oleh Israel terhadap pasukan penjaga perdamaian PBB ini memicu kecaman dari sejumlah negara yang mengirimkan pasukan ke Lebanon. Italia, Spanyol, dan Kanada menjadi beberapa negara yang bereaksi keras terhadap tindakan ini. Italia, yang memiliki kontingen pasukan di UNIFIL, bahkan memanggil duta besar Israel di Roma untuk menyampaikan protes resmi, menyebut serangan ini bisa dianggap sebagai kejahatan perang.
Baca Juga: 79 WNI Berhasil Dievakuasi dari Lebanon, Masih Ada 85 Orang Lagi
Pemerintah Indonesia turut menyuarakan keprihatinan mendalam. Retno Marsudi mendesak adanya penyelidikan penuh terhadap serangan ini dan menuntut Israel bertanggung jawab atas tindakan yang dianggap melanggar hukum internasional tersebut. "Kami mendesak PBB untuk menyelidiki secara menyeluruh serangan ini dan memastikan bahwa misi perdamaian tidak lagi menjadi sasaran kekerasan," ujar Retno.
Meskipun Israel adalah sekutu utama Amerika Serikat di Timur Tengah, Washington merespons insiden ini dengan pernyataan "kekhawatiran mendalam." Juru bicara Dewan Keamanan Nasional AS mengakui bahwa Israel sedang melakukan operasi di sekitar Garis Biru untuk menargetkan infrastruktur Hizbullah. Namun, pihak AS juga menekankan pentingnya menjaga keselamatan pasukan penjaga perdamaian PBB.
"Kami memahami bahwa Israel sedang melakukan operasi yang ditargetkan untuk menghancurkan infrastruktur Hizbullah. Namun, sangat penting bagi mereka untuk tidak mengancam keselamatan dan keamanan penjaga perdamaian PBB," kata juru bicara tersebut.
Serangan terhadap UNIFIL ini bukanlah insiden pertama yang melibatkan bentrokan antara IDF dan Hizbullah di perbatasan Lebanon-Israel. Sebelumnya, UNIFIL telah berkali-kali menjadi saksi ketegangan antara kedua pihak yang sering menimbulkan korban di kalangan pasukan penjaga perdamaian.
Baca Juga: Tunjangan Perumahan DPR Dituding Pemborosan
UNIFIL, yang didirikan berdasarkan mandat Dewan Keamanan PBB, memiliki tugas utama untuk mendukung stabilitas di wilayah perbatasan Lebanon dan Israel. Namun, serangan seperti ini memperlihatkan tantangan yang dihadapi pasukan perdamaian dalam menjaga keamanan di kawasan yang terus-menerus dilanda konflik.
Dengan situasi yang semakin memanas di Lebanon selatan, perhatian dunia kini tertuju pada upaya untuk mencari jalan keluar damai dan mencegah eskalasi lebih lanjut. Keamanan dan keselamatan pasukan penjaga perdamaian UNIFIL, termasuk kontingen Indonesia, menjadi prioritas dalam diplomasi internasional terkait konflik ini.
Artikel Terkait
Free Palestine Network Mengutuk Teror Pengecut Israel Terhadap Pimpinan Hamas Ismail Haniyah
MAPB Rugi Besar di Semester I/2024, Penjualan Starbucks Terdampak Boikot Israel
Langkah Catur Rusia di Asia Barat di Tengah Konflik Palestina-Israel
Satu Tahun Perang Gaza-Israel dalam Angka
116 WNI Bertahan di Lebanon Meski Serangan Israel Meningkat