Baca Juga : Gatot Nurmantyo Goreng Isu PKI untuk Jatuhkan Jokowi
Pertama awal November 2020, kala itu Gatot bersama koleganya di depan taman makam pahlawan Kalibata mencoba masuk ke taman makam pahlawan dengan sikap yang tak patut, dan tujuannya jelas berbau politis bukan gerakan moral kata Agum menjelaskan.
Kedua, Senin 27 September 2021, ketika Gatot memainkan isu hilangnya patung diorama di Markas Kostrad : Jenderal TNI (Purn) Adbul Haris Nasution, Jenderal TNI (Purn) Soeharto dan Letnan Jenderal TNI (Purn) Sarwo Edhi Wibowo, dan 6 Jenderal lainnya dan satu Kapten saat peristiwa G30SPKI.
Pernyataan hilangnya patung tersebut sudah dibantah resmi pihak Kostrad.
Terkait itu, Agum dalam acara Program Sapa Indonesia Malam di Kompas TV, Selasa (28/9/2021) menyatakan bahwa pernyataan Gatot terlalu terburu-buru dan hanya menimbulkan kegaduhan. “Ini terlalu gopoh (terburu-buru), saudara Gatot Nurmantyo,”
Agum meminta agar Gatot tidak membuat statement yang terlalu bombastis dan menimbulkan kegaduhan. “Padahal hal yang harus kita hindari adalah kegaduhan-kegaduhan,” katanya.
Agum menegaskan, tidak mungkin TNI disusupi unsur-unsur komunis atau Partai Komunis Indonesia (PKI) seperti yang dikatakan Gatot.
Dia menyatakan seorang prajurit TNI baik yang masih aktif maupun purnawirawan memegang teguh sumpah Sapta Marga. Yaitu setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang bersendikan Pancasila dan pendukung dan pembela ideologi negara yang bertanggung jawab dan tak mengenal lelah.
“Jadi kalau ada kekuatan dari manapun datangnya itu, radikal yang ingin mengganti NKRI dan Pancasila itu adalah musuh negara, tidak mungkin anggota TNI akan termakan susupan seperti ini,” paparnya.