NAWACITAPOST.COM, Nias Utara (08/06/2024) – Perasaan duka yang dialami oleh keluarga Darwis Gea als Ama Sarani Gea dan Seriati Zai Als Ina Sarani Gea, pasangan Suami Istri orang tua kandung dari Prada Prima Saleh Gea, anggota kesatuan Yonkes Divisi 1 Kostrad di Bogor.
Betapa tidak ?, selama ini kedua orang tua dan keluarga besar , bangga atas anak mereka Prima Saleh Gea telah menjadi Prajurit TNI di Kesatuan Yonkes 1/YKH/1 Kostrad di Bogor.
Namun, bagaikan petir di siang bolong ketika mendengar kabar bahwa Prima Saleh Gea meninggal dunia diduga bunuh diri pada Selasa 04 Juni 2024 di Kamar OB Rumkit Lapangan Yonkes 1/YKH/1 Kostrad, Bogor.
Ditubuh jenazah Prima Saleh Gea, terlihat oleh keluarga ada bekas lilitan tali di berdering setiba jenazah di Rumah duka , Desa Fulolo Salo'o Kecamatan Sitolu'ori Kabupaten Nias Utara, Sumatera Utara pada Rabu 05 Juni 2024.
Menurut keterangan pihak keluarga, kakak kandung almarhum Prima Saleh gea menjelaskan bahwa :
“ Pada hari Selasa (04/06/2024), sekira pukul 00.30 wib salah seorang anggota Kesatuan Yonkes 1/YKH/1 Kostrad dari Provos berinisial EYG menginformasikan kepada kami bahwa Prima Saleh Gea telah meninggal dunia dengan gantung diri, dan saat itu kami melakukan Video call, namun posisi jenazah Prima Saleh Gea sudah berada di kamar klinik Yonkes”, ujar Kakak almarhum
Dilanjutkan, Lalu Provos EYG langsung menawarkan kepada kami mengenai proses selanjutnya apakah dipulangkan ke Nias atau dimakamkan di Bogor. Tapi karena saya tinggal di Jakarta, maka saya langsung ke lokasi di Yonkes Bogor. Setiba di sana, pemakaman adek saya alm Prima Saleh Gea langsung dimandikan dan tidak ada dokumen keterangan apapun yang diberikan kepada saya oleh pihak Kesatuan.
Usai dimandikan, Sekira pukul 08.00 wib kami diberangkatkan melalui mobil ambulans menuju Bandara Soekarno Hatta dan dikawal 1 unit mobil TNI.
Setiba dibandara, tepatnya di tempat kargo peti, Komandan Kompi berkumpul saya beri tahu bernama Christian Hutauruk, menyampaikan kepada saya bahwa tidak dapat ikut sampai ke Nias, namun akan menyusul, sementara kepada saya diserahkan 1 (satu) tas dan 1 (satu) baju plastik dan handuk almarhum saat kejadian.
Sekira 15 menit sebelum memasuki pesawat, saya dihubungi oleh Provos EYG bahwasanya dia dapat petunjuk dari komandaanya untuk menurunkan jenazah dari pesawat karna akan dilakukan otopsi. Saya langsung menghubungi keluarga untuk meminta persetujuan, dan keluarga tidak setuju.
Provos EYG mengatakan kepada keluarga bahwa jenazah harus diturunkan dari pesawat, dan jikalau tidak setuju keluarga harus membuat surat penyataan bahwa tidak setuju untuk melakukan otopsi dan tidak akan menggugat/menuntut. Keluarga terpaksa membuat dan menandatangani surat karena kalimat dari Provos EYG terkesan seperti mengancam
Selanjutnya pada pukul 14.10 wib, kami tiba di bandara udara Silangit, dijemput oleh ambulans tanpa personel TNI dan langsung menuju pelabuhan sibolga, tiba pukul 17.30 wib.
Kemudian, pada hari Rabu (05/06/2024), kami tiba di pelabuhan angin Gunungsitoli sekira pukul 08.00 wib, selanjutnya sekira pukul 10.00 wib, kami tiba dirumah tanpa ada pengawalan dari personel TNI.
Saat perjalanan menuju rumah, provos EYG menghubungi saya untuk tidak membuka bungkusan plastik berisi baju almarhum dan mengarahkan untuk menyerahkan barang tersebut kepada pihak yang berkumpul saat tiba besok hari