NAWACITAPOST.COM — Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menanggapi polemik produk pemanis stevia yang tengah ramai diperbincangkan di media sosial karena diduga mengandung pemanis buatan berupa campuran sukralosa dan neotam.
Budi mengatakan, konsumsi gula secara berlebihan dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit, mulai dari diabetes, stroke, penyakit jantung, hingga gangguan ginjal.
“Memang gula ini kalau ketinggian bisa menyebabkan diabetes, bisa kena stroke, bisa kena jantung, bisa kena masalah ginjal,” ujar Budi kepada awak media di Jakarta, Jumat (30/10/2026).
Terkait pengawasan peredaran produk pemanis tersebut, Budi menjelaskan bahwa kewenangan pengawasan berada di bawah Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
Menurutnya, sejumlah jenis pemanis buatan memiliki ketentuan penggunaan tersendiri, termasuk yang tidak direkomendasikan. Karena itu, pengawasan terhadap produk tersebut menjadi kewenangan BPOM, bukan Kementerian Kesehatan (Kemenkes).
Baca Juga: Honda BeAT vs Yamaha Mio M3, Mana Lebih Irit dan Murah untuk Mobilitas Haria
“Beberapa pemanis buatan itu ada yang tidak direkomendasikan dan ranahnya memang BPOM, bukan ranahnya Kementerian Kesehatan. Jadi, kita mengikuti BPOM,” jelasnya.
Lebih lanjut, Budi menerangkan bahwa Kemenkes bertanggung jawab terhadap pengaturan dan pengawasan pangan serta minuman siap saji. Sementara itu, BPOM memiliki kewenangan dalam pengawasan produk pangan olahan dalam kemasan.
“Kalau BPOM merasa bahwa ini kadar gulanya adalah kadar gula yang tidak memenuhi syarat, ya kita mengikuti BPOM,” sambungnya.
Polemik produk stevia tersebut mencuat setelah influencer Samora Fuad Abdullah, yang dikenal dengan nama Dokter Detektif (Doktif), mengungkap hasil pengujian laboratorium terhadap produk Beeru Stevia. Hasil uji tersebut disebut menunjukkan adanya kandungan sukralosa dan neotam.
Temuan itu kemudian memicu perbincangan luas di media sosial. Sejumlah konsumen mengungkapkan kekecewaan karena merasa telah menggunakan produk tersebut dalam waktu lama dengan keyakinan bahwa produk itu tidak mengandung kalori.
Salah satu pengguna Threads dengan akun @puspaintanmfs mengaku terkejut setelah mengetahui informasi mengenai hasil pengujian laboratorium tersebut. Ia menyebut telah menggunakan produk itu selama dua tahun, bahkan memberikannya kepada anggota keluarga yang menderita diabetes karena percaya pada keterangan 0 kalori yang tercantum pada kemasan.
“Stevia yang udah 2 tahun jadi andalanku diet, barusan dibahas Doktif di TikTok soal hasil lab kalorinya. Aku beli berkali-kali, keluarga aku yang diabetes juga pakai ini karena percaya di packaging tertulis 0 kalori,” tulisnya pada Rabu (28/10/2026).
Kekecewaan serupa disampaikan akun Threads @aisyafiy. Ia mengaku tidak menyangka produk stevia yang selama ini digunakan dan direkomendasikan kepada orang lain diduga mengandung pemanis buatan sukralosa dan neotam.
Artikel Terkait
Kejagung Kembali Lelang 209 Ribu Ton Batu Bara Sitaan, Terjual Rp264 Miliar
Banjir Landa Aceh dan Sumatera Utara, Ribuan Warga Terdampak
Menkes Pastikan Klinik Koperasi Merah Putih Bisa Layani Peserta BPJS Kesehatan
TNI AD Tetapkan Letda AG sebagai Tersangka dalam Kasus Tertembaknya Letda Jihad