Pembangunan jembatan ini bertujuan untuk mendukung konektivitas bagi pengembangan wilayah selatan Kota Kendari, yakni daerah Poasia dan Pulau Bungkutoko yang akan dikembangkan menjadi kawasan industri Kendari New Port dan kawasan permukiman baru.
Jembatan dengan tipe cable stayed ini memiliki lebar 20 meter dengan empat lajur serta median dan trotoar. Progres konstruksi seluruhnya telah mencapai 97,33 persen.
Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan, konektivitas antar wilayah diperlukan agar mobilitas barang, jasa, dan manusia lebih efisien. Dengan konektivitas yang semakin lancar diharapkan meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah sehingga dapat membantu proses percepatan pembangunan di wilayah tersebut.
Baca Juga : Presiden Jokowi : Bantuan Rp 2,4 Juta, Jangan Digunakan Untuk Hal Tidak Bermanfaat
"Pembangunan infrastruktur jembatan, flyover dan underpass akan memperlancar konektivitas dan aksesibilitas lalu lintas, di samping memberikan alternatif bagi warga untuk meningkatkan produktivitas perekonomian," kata Menteri Basuki dalam keterangan tertulis, Selasa (25/8/2020).
Pemerintah telah mencanangkan pembangunan kawasan pelabuhan di Pulau Bungkutoko yang menjadi bagian pengembangan Kota Kendari dengan dibangunnya Pelabuhan Bangkutoko (Kendari New Port) seluas 66 ha. Kawasan pelabuhan ini merupakan pindahan dari pelabuhan lama di kawasan Kota Lama.
Pelabuhan Bungkutoko diproyeksikan menjadi pintu masuk bagi komoditi dari dan ke luar Kota Kendari maupun Sulawesi Tenggara dengan adanya rencana pembangunan kawasan industri penunjang seluas 26 ha. Di area pelabuhan juga akan dibangun terminal antar moda (20 ha), terminal multipurpose (32 ha), terminal penumpang (23 ha), dan tracking mangrove (24 ha).
Selain mendukung aksesibilitas pelabuhan baru, Jembatan Teluk Kendari juga akan meningkatkan konektivitas jalan nasional dan jalan lingkar luar (Outer Ring Road) Kota Kendari. Berdasarkan road map, panjang pembangunan jalan lingkar luar sekitar 40 Km yang menghubungkan Kota Kendari dengan Kabupaten Konawe.