Jumat, 28 Agustus 2026

Menjadi Baik Bersama NU, Cara Gus Rozin Memaknai Khidmah di Jam’iyah

Photo Author
- Jumat, 28 Agustus 2026 | 19:02 WIB

Jombang, Nawacitapost.com— Mengapa seseorang bersedia menghabiskan waktu, tenaga, dan pikirannya untuk mengurus organisasi sebesar Nahdlatul Ulama (NU), sementara pekerjaan dan keluarga sendiri, sudah menyita banyak energi?

Pertanyaan sederhana itu justru membuka percakapan tentang satu kata yang lekat dengan tradisi pesantren dan kehidupan warga Nahdlatul Ulama: barokah.

Bagi sebagian warga NU, menjadi pengurus bukan semata-mata soal jabatan.

Ada keyakinan bahwa berada di lingkungan NU merupakan bagian dari ikhtiar untuk menjadi pribadi yang lebih baik sekaligus menghadirkan kebaikan bagi orang lain. Jumat, (28/8/2026) 

Pandangan semacam itu pula yang pernah disampaikan KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin, Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah sekaligus salah satu kandidat Ketua Umum PBNU pada Muktamar ke-35. “NU ini adalah organisasi yang baik. Justru kitalah yang ingin menjadi baik dengan melalui NU,” kata Gus Rozin.

Pernyataan tersebut menempatkan NU bukan sekadar sebagai organisasi yang harus dikelola, tetapi juga sebagai ruang pengabdian dan proses pembentukan diri.

Dari Mencari Barokah hingga Mengurus Jamaah
Dalam tradisi pesantren, barokah sering dipahami sebagai ziyādatul khair, bertambahnya kebaikan. Makna itu kemudian menjadi penting ketika seseorang memutuskan mengambil tanggung jawab dalam kepengurusan NU.

Seorang ketua Ansor di tingkat cabang, misalnya, menggambarkan keputusannya menjadi pengurus sebagai panggilan jiwa”.

Ia tumbuh dalam lingkungan NU dan memperoleh pendidikan pesantren. Karena itu, ketika mendapat kesempatan untuk mengambil bagian dalam kepengurusan, ia merasa memiliki tanggung jawab untuk meneruskan nilai yang diterimanya.

Bagi dia, menjadi bagian dari NU berarti berusaha menjaga diri tetap berada dalam lingkungan yang baik: dekat dengan para kiai, dekat dengan tradisi mengaji, dan dekat dengan ilmu.

Dari titik itu, makna kebaikan kemudian berkembang. Mengurus NU tidak lagi hanya berbicara tentang bagaimana seseorang memperbaiki dirinya sendiri, tetapi bagaimana kebaikan tersebut dapat dirasakan jamaah dan masyarakat.

Seorang pengurus NU, misalnya, tidak cukup hanya memikirkan agenda organisasinya sendiri. Ia juga dituntut menggerakkan anggota, mengembangkan sumber daya, serta mencari jalan agar organisasi memberikan manfaat bagi masyarakat.

NU sebagai Jalan Pengabdian

Cara pandang tersebut menjadi penting di tengah pembicaraan mengenai kepemimpinan NU menjelang Muktamar ke-35. Gus Rozin melihat NU sebagai jam'iyah yang dibangun dari jutaan jamaah. Karena itu, perbaikan organisasi pada akhirnya tidak dapat dilepaskan dari perbaikan orang-orang yang berada di dalamnya.

Jamaah yang semakin baik akan menjadi modal bagi jam'iyah yang semakin kuat. Kerangka berpikir ini pula yang membuat Gus Rozin menempatkan penguatan jamaah dan jam'iyah sebagai bagian penting dari agenda kepemimpinan NU.

Halaman:

Editor: Elya Yuddy Irawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini