Kamis, 4 Juni 2026

Pengamat Militer : BNPT di Bawah Komando Boy Rafli Harus Lebih Baik

Photo Author
Martin, Nawacita Post
- Kamis, 7 Mei 2020 | 08:14 WIB
NAWACITAPOST- Pengamat militer dari Institute For Security and Strategic Studies (ISESS), Khairul Fahmi memberikan beberapa catatan agar BNPT di bawah komando Boy Rafli menjadi lebih baik lagi ke depan.

"Sebagai penjuru penanggulangan terorisme, saat ini kerja BNPT dianggap masih sangat lekat dengan aktivitas-aktivitas penindakan yang dilakukan Polri. Padahal, itu hanya sebagian dari keseluruhan kerja penanggulangan terorisme," kata Fahmi, Kamis (7/5/2020).

Baca Juga : Tangani Covid-19, Dua Hotel di Kota Tangerang Jadi Tempat Singgah Para Medis

Menurut Fahmi selama ini ketika terjadi aksi teror, publik pun tak langsung menoleh pada BNPT. Publik lebih banyak mendengar pernyataan Polri ketimbang BNPT, bahkan ketika negara dituding kecolongan aksi terorisme, yang disebut bertanggung jawab justru BIN, bukan BNPT.

"Artinya, selama ini BNPT masih bekerja di bawah bayang-bayang lembaga lain. Padahal mestinya menjadi leading sector," ujarnya.

Dengan pengalaman yang dimiliki oleh Boy Rafli Amar, Ia berharap agar menjadi modal kuat baginya untuk membenahi BNPT dan menggalang dukungan lebih besar bagi proposal pemberantasan terorisme yang akan ditawarkannya.

Hal itu bisa dimulai dari upaya membawa BNPT menjadi lebih terbuka terhadap kritik maupun evaluasi eksternal, serta tidak bersikap defensif dan 'ngotot', seperti yang selama ini kerap ditunjukkan oleh sejumlah petinggi BNPT terdahulu.

"Terutama berkaitan dengan minimnya kemampuan mitigasi, kurang efektifnya program-program deradikalisasi dan kontraradikalisasi, pun rehabilitasi," tutur Fahmi.

Lebih lanjut Fahmi menginginkan BNPT mampu menjawab ekspektasi banyak kalangan untuk mengembangkan model pemberantasan teror yang tidak lebih menakutkan ketimbang terornya itu sendiri. Terutama dalam hal mitigasi yang komprehensif meliputi kewaspadaan, kesiapsiagaan, tanggap darurat, pemulihan dan trauma healing.

Kemudian, kata Fahmi, Boy Rafli sejatinya tidak menawarkan gagasan yang muluk-muluk, serta tak melulu mengusung hard approach ala Densus 88 Antiteror yang kerap menuai kritik banyak pihak.

"Enggak cuma bicara capaian-capaian statistik tanpa ukuran kualitatif, dalam aspek penindakan sekalipun. Saya akan angkat dua jempol buat Boy Rafli, jika di masanya ini terduga pelaku teror yang tewas dalam tahanan atau saat penggerebekan, syukur-syukur bisa nol," tutupnya.

 

 

 

Editor: Martin

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini