Kamis, 4 Juni 2026

Kisah Maria Evin: Mensos Risma 'Amuk' Pendamping PKH di NTT

Photo Author
Nawi., Nawacita Post
- Kamis, 29 Februari 2024 | 18:02 WIB
Menteri Sosial Tri Rismaharini mengamuk ke pendamping PKH (Program Keluarga Harapan—penyalur bantuan Kemensos) di Desa Golo Wune, Pegunungan Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (25/2) (Istimewa)
Menteri Sosial Tri Rismaharini mengamuk ke pendamping PKH (Program Keluarga Harapan—penyalur bantuan Kemensos) di Desa Golo Wune, Pegunungan Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (25/2) (Istimewa)

NAWACITAPOST.COM - Menteri Sosial Tri Rismaharini memprotes pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) di Desa Golo Wune, Pegunungan Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (25/2/2024). Risma mengungkapkan kekecewaannya karena menerima informasi tentang keluarga kurang mampu dari media, bukan dari pendamping PKH.

"Dosa kalian semua! Dosa kalian!" pungkas Risma dengan marah kepada pendamping PKH, dalam sebuah insiden yang viral baru-baru ini.

"Jangan ketawa, saya ngomong serius ini. Saya enggak pernah dapat laporan dari kalian masalah-masalah seperti ini. Dosa kalian semua! Dosa kalian!" pungkas Risma.

Baca Juga: Isyarat Pamitan dari Mahfud MD, Akhir dari Perjalanan Politiknya?

Kemarahan Risma tidak terjadi tanpa alasan dan latar belakang yang jelas. Risma merasa kesal karena ia mengetahui informasi tentang Maria Evin melalui media, padahal seharusnya ia seharusnya mendapat informasi tersebut langsung dari pendamping PKH.

Menurut penuturan Risma, Maria adalah seorang ibu yang mengurus tiga anak sendirian di sebuah gubuk yang sangat sederhana. Suaminya pergi merantau dan tidak pernah kembali.

Risma juga menyoroti usulan pendamping PKH untuk mendapatkan motor trail agar dapat mencapai area yang sulit dijangkau. Namun, Risma merasa kemarahan karena menurutnya pendamping PKH di Papua mampu menjalankan tugasnya tanpa bantuan motor trail.

Baca Juga: Kampanyekan 02, Kades Tarik divonis bersalah, 12 lainnya tunggu giliran!

"Saya harus keras soalnya... Karena kita tidak akan pernah selesai kalau mereka belum sejahtera. Hayo. Mana loh pertanggungjawaban kalian," lanjutnya.

Dia juga mengingatkan bahwa masih banyak orang yang membutuhkan perhatian, menyatakan bahwa pekerjaannya adalah urusan dengan Tuhan, bukan masalah duniawi.

"Saya habis kerja keras begini saya masih pakai alat untuk penyangga ini, sakit sekali, tapi saya pastikan enggak ada mundur. Saya mau ke sini hari ini, saya pergi ke sini meskipun risikonya saya kumat lagi tapi itu saya ambil," ujar Risma, menuturkan pengalaman pribadinya.

Baca Juga: Website Hitung Suara dianggap KPU Hoax dan Menyesatkan, Samuel Teguh: Ini Pidana!

"Tapi risiko saya ambil, pergi ke sini lagi. Jadi anak-anakku ayolah, apa yang mau kita cari di hidup ini. Kita besok mati, enggak ada yang bisa menunda mati," imbuhnya. ***

Editor: Nawi.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini