NAWACITAPOST.COM – Gelombang respons terhadap ceramah mantan Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla (JK) di Masjid Kampus Universitas Gadjah Mada (UGM) terus bergulir. Terbaru, Pendeta Otoli Zebua turut memberikan tanggapan mendalam terkait pernyataan tokoh bangsa tersebut yang kini menuai polemik.
Pendeta Otoli menilai bahwa pandangan yang disampaikan JK kemungkinan besar berakar dari ketidaktahuan yang mendalam mengenai teologi dan ajaran dasar Kristiani. Ia menganggap wajar jika terjadi misinterpretasi, mengingat latar belakang JK yang bukan pemeluk agama Kristen.
Kritik Atas Ketidakpahaman Teologis
Dalam keterangannya, Pendeta Otoli menekankan bahwa narasi yang dibangun JK menunjukkan adanya jarak pemahaman terhadap ajaran sentral Yesus Kristus, terutama mengenai cara menyikapi lawan.
Baca Juga: Adopsi AI di Indonesia Masih Rendah, Menaker: Pekerja Wajib Relevan dengan Teknologi
"Kemungkinan besar Pak JK tidak pernah memahami Bibel atau Injil secara utuh. Beliau mungkin tidak pernah mendengar ajaran Yesus yang paling radikal namun mulia, yaitu: Kasihilah musuhmu, dan berdoalah bagi orang yang menganiaya kamu," ujar Pendeta Otoli, pada Rabu (15/4/2026).
Ia merujuk pada Matius 5:44 sebagai fondasi etika Kristiani yang disebutnya sebagai kasih Agape. Menurutnya, ajaran ini menuntut tindakan aktif untuk mendoakan dan berbuat baik kepada pihak yang membenci, alih-alih mengutamakan dendam.
Kronologi Polemik: Dari UGM ke Polda Metro Jaya
Persoalan ini bermula dari ceramah JK dalam rangkaian Ramadan Public Lecture di Masjid Kampus UGM Yogyakarta, yang bersamaan dengan momentum bulan suci Ramadan, pada Kamis (5/3/2026). Pernyataan JK terkait konflik Poso dan Ambon yang menyinggung frasa "syahid" memicu reaksi keras dari organisasi kepemudaan Kristen dan Katolik.
- Laporan Polisi: DPP Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) dan PP Pemuda Katolik resmi melaporkan JK ke Polda Metro Jaya. Ketua Umum GAMKI, Sahat Martin, menilai pernyataan tersebut menimbulkan kegaduhan.
- Keberatan Istilah: Ketua Umum PP Pemuda Katolik, Stefanus Asat Gusma, mempermasalahkan penggunaan istilah yang dianggap tidak sesuai dengan ajaran Kristen/Katolik yang menolak kekerasan terhadap sesama.
Baca Juga: Peta Kekuatan Properti Nasional: 20 Raksasa Developer yang Mendominasi Pasar Indonesia
Pembelaan Pihak JK dan Takmir UGM
Di sisi lain, pihak Takmir Masjid Kampus UGM dan Juru Bicara JK meminta publik untuk tidak reaktif terhadap potongan video yang beredar di media sosial.
- Imbauan Simak Video Utuh: Ketua Takmir UGM, Mohamad Yusuf, menegaskan bahwa cuplikan yang tidak lengkap sangat berisiko memicu disinformasi. "Kami mohon dengan sangat untuk menyimak video secara utuh," pintanya, Senin (13/4/2026).
- Klarifikasi Jubir JK: Husain Abdullah, Jubir JK, menjelaskan bahwa JK sebenarnya sedang memaparkan realitas sosiologis masa lalu. JK justru bermaksud meluruskan bahwa tindakan saling membunuh dengan kedok agama adalah jalan menuju neraka, bukan surga. "Pak JK menceritakan pendekatan paradigma yang ia lakukan untuk menghentikan konflik," tegas Husain.
Baca Juga: Menaker: Keselamatan Pekerja Harga Mati, Balai K3 Harus Jadi Garda Terdepan Pencegahan
Harapan untuk Dialog Bangsa
Menutup tanggapannya, Pendeta Otoli Zebua berharap para tokoh bangsa lebih berhati-hati dalam memberikan pernyataan yang bersinggungan dengan ranah teologis agama lain.
"Dengan memahami bahwa ajaran Kristen mengedepankan pengampunan dan kasih kepada semua orang tanpa terkecuali, diharapkan tidak ada lagi miskonsepsi yang dapat memicu polemik di tengah masyarakat," pungkasnya.
Artikel Terkait
Tren Hunian 2026: Perpaduan Desain Modern, Harmoni Alam, dan Jaminan Keamanan Aset
Properti Eksklusif di Bekasi dan Karawang? Ini Hunian Mewah hingga Ruko Strategis
Bidik Rp9,5 Triliun, Ciputra Development Optimistis Capai Target Lewat Segmen Premium
Imigrasi Belawan Edukasi Pelajar Cegah Tindakan Pidana Perdagangan Orang
Transformasi Hunian Indonesia: Inilah 15 Pengembang Properti Terbaik dengan Reputasi Gemilang