Hal senada juga disampaikan oleh Matius Ho Direktur Eksekutif Institut Leimena, yang mengatakan literasi keagamaan lintas budaya, atau LKLB, sama halnya dengan literasi lainnya seperti literasi digital atau literasi keuangan.
"Dalam masyarakat Indonesia yang majemuk, tanpa literasi keagamaan yang baik, maka masyarakat bisa tersesat karena munculnya banyak kesalahpahaman dan prasangka," katanya.
Matius panggilan akrabnya menjelaskan, LKLB adalah kerangka sederhana untuk mengembangkan kompetensi dan keterampilan dalam berelasi dengan orang yang berbeda agama.
"Ada tiga kompetensi yang diajarkan adalah kompetensi pribadi (memahami apa yang dikatakan agama dan kitab sucinya sendiri tentang orang yang berbeda/liyan), kompetensi komparatif (memahami agama orang lain dari sudut pandang penganut agama itu sendiri), dan kompetensi kolaboratif (bekerja sama untuk kebaikan bersama)," paparnya.
Baca Juga: Profesional dan Modern, PK Bapas Muara Teweh Laksanakan Pendampingan Diversi secara Daring
“Melalui workshop ini, para guru dilatih untuk menerapkan ketiga kompetensi LKLB sekaligus menjadi ruang perjumpaan para guru yang berasal dari berbagai agama dan latar belakang berbeda,” imbuhnya.
Matius menambahkan, laporan Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-bangsa (UNESCO) menyoroti pentingnya solidaritas global dalam visi pendidikan dunia tahun 2050. Laporan UNESCO menyebut salah satu tantangan pendidikan global ke depan adalah dunia semakin terpolarisasi.
“Ini tampaknya menjadi keprihatinan tidak hanya di Indonesia, tapi juga di luar negeri, sehingga LKLB bisa menjadi jembatan bagi orang-orang yang berbeda agama dan kepercayaan bisa saling bekerja sama untuk kebaikan bersama,” terangnya.
Baca Juga: Sholat Jumat Berjamaah, Petugas dan WBP Lapas Gunungtua Melaksanakan Secara Rutin
Para guru yang hadir dalam workshop LKLB hari ini berasal dari berbagai sekolah antara lain Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Insan Cendekia Aceh Timur, Madrasah Tsanawiyah (MTs) Al Fatah Timika, MAN 1 Jakarta, sekolah di bawah Badan Pendidikan Kristen (BPK) Penabur, Sekolah Narada, dan sejumlah Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri.
Pelaksanaan workshop LKLB mencakup sesi-sesi lengkap mulai dari pemaparan materi, diskusi kelompok didampingi fasilitator, kunjungan ke rumah ibadah, dan praktik mengajar (micro teaching) agar guru bisa memasukan nilai-nilai LKLB dalam pembelajaran di kelas. Sejauh ini, workshop LKLB telah diadakan 21 kali di sejumlah kota di Indonesia bekerja sama dengan banyak institusi pendidikan dan keagamaan.
Artikel Terkait
Raih 17 Emas, Muaythai Jawa Timur Kokohkan Dominasi Nasional
Cahyo Harjo Prakoso Dampingi Korban Kebakaran Jemursari, Pastikan Penanganan Cepat
Kebijakan Pembatasan KK Tuai Protes, DPRD Surabaya: Hak Konstitusional Warga Harus Dipulihkan
Peringati Maulid Nabi Muhammad, Lapas Kotapinang Bentuk Karakter Warga Binaan Lewat Pembinaan Keagamaan
Sholat Jumat Berjamaah, Petugas dan WBP Lapas Gunungtua Melaksanakan Secara Rutin