Kamis, 4 Juni 2026

Soal Presiden Boleh Kampanye dalam Pilpres 2024, Berikut Tanggapan Netizen Terhadap Pernyataan Jokowi

Photo Author
Ahmad, Nawacita Post
- Kamis, 25 Januari 2024 | 12:17 WIB
Presiden Joko Widodo (X)
Presiden Joko Widodo (X)

NAWACITAPOST.COM - Presiden Joko Widodo (Jokowi) baru-baru ini membuat pernyataan kontroversial mengenai hak seorang presiden untuk memihak dan berkampanye dalam pemilihan presiden (Pilpres) 2024.

Pernyataan ini langsung menimbulkan beragam respons dari berbagai pihak, termasuk dari netizen atau warganet yang turut bersuara di media sosial. Berikut adalah rangkuman tanggapan netizen terhadap pernyataan Jokowi.

Kritikus politik Faizal Assegaf, menganggap tindakan Jokowi itu sebagai tindakan yang semakin meningkatkan ketegangan politik. Faizal menilai bahwa keterlibatan Jokowi dalam Pilpres 2024 menciptakan suasana politik yang tidak kondusif dan mengundang kekhawatiran akan adanya pemilu yang curang.

Baca Juga: Jokowi Turun Kampanye, Faigiziduhu Ndruru: Indikasi Pendukung Prabowo-Gibran Mulai Pindah ke Paslon Lain

"Tentu publik gusar. Mestinya Jokowi mundur atau cuti dari jabatannya agar bebas terlibat Pilpres. Tapi, justru yang terjadi Jokowi makin merasa perkasa, arogan dan bertindak bebas akibat mabok dinasti politik," tulis dia dalam akun X.

Faizal menambahkan, pernyataan tersebut juga menggambarkan mengenai persiapan "dinasti politik" yang terstruktur dan matang. Ini bisa menjadi refleksi ketidakpuasan terhadap dominasi politik yang dianggap terlalu terpusat pada satu kelompok atau keluarga, utamanya Jokowi.

"Menggambarkan persiapan panjang dan matang dinasti Jokowi masuk ke arena Pilpres. Banyak kejahatan politik dilakoni. Partai dirantai, MK diperkosa hingga para menteri diperbudak ambisi. Demi bocah Istana, semua ditabrak," kata dia.

Baca Juga: Mahfud MD Blak-blakan Rencana Mundur, Jokowi: Saya Sangat Menghargai Haknya

Seorang netizen dengan username @cobeh2022 menyoroti ironi pernyataan Jokowi yang awalnya menekankan netralitas pada November 2023, namun kemudian mengizinkan presiden untuk memihak dalam Pilpres pada Januari 2024. Hal ini dianggap sebagai sikap yang kontradiktif dan menimbulkan keraguan terhadap netralitas pemerintah.

"Jokowi: 1 Nov 2023: Harus Netral, 24 Jan 2024: Boleh Memihak," kata dia.

Akun @namasayamelki menunjukkan ketidakpuasan terhadap keberpihakan yang diungkapkan oleh Jokowi. Pernyataan tersebut dianggap sebagai akhir kekuasaan yang tidak pantas dan memalukan, menciptakan ketidakpastian terhadap integritas pemilihan presiden.

"Selamat Presiden @jokowi, akhir kekuasaan anda betul-betul diakhiri dengan tidak hormat dan memalukan," tulis @namasayamelki," kata dia.

Baca Juga: Dijemput Paksa, Polda Metro Jaya Tahan Siskaeee

Seorang netizen dengan akun @yaniarsim mengingatkan tentang potensi kecurangan dalam pemilihan umum. Ia menyatakan bahwa memilih pasangan Prabowo dan Gibran dianggap sebagai kelanjutan dari pemerintahan Jokowi, dan mengajak untuk mewaspadai kecurangan dalam proses pemilihan.

Halaman:

Editor: Ahmad

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini