Kamis, 4 Juni 2026

Rupiah Tertekan, Menyentuh Level 17.000 per Dolar AS di Tengah Gejolak Global

Photo Author
Safriana syahra, Nawacita Post
- Senin, 7 April 2025 | 14:27 WIB
 (Dok. Media Asuransi)
(Dok. Media Asuransi)

NAWACITAPOST.COM - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami pelemahan signifikan pada perdagangan Senin, 7 April 2025.

Di pasar spot, rupiah sempat menembus angka psikologis Rp17.000 per dolar AS, menciptakan kekhawatiran di kalangan pelaku pasar.

Berdasarkan data Bloomberg pukul 09.16 WIB, rupiah sempat melemah hingga menyentuh Rp17.217 per dolar AS.

Meski sempat sedikit menguat, hingga pukul 12.05 WIB, nilai tukar rupiah masih tertekan di posisi Rp16.835, atau turun 183 poin (1,10%).

Analis pasar uang sekaligus Presiden Direktur PT Doo Financial Futures, Ariston Tjendra, menyebut tekanan terhadap rupiah tak lepas dari reaksi negatif sejumlah negara atas kebijakan tarif baru yang diberlakukan oleh pemerintah AS.

"Tarif yang diumumkan Presiden AS Donald Trump menimbulkan respons defensif dari negara-negara mitra dagang, yang akhirnya menciptakan tekanan besar terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah," jelas Ariston, dikutip dari Antara.

Baca Juga: Film “Pabrik Gula” Picu Perbandingan dengan “KKN di Desa Penari”, Ini Perbedaan Mencoloknya

Kondisi ini diperburuk oleh kekhawatiran pasar terhadap dampak perang dagang global yang kembali memanas.

Ketidakpastian tersebut membuat investor mengalihkan dana mereka ke aset-aset aman (safe haven), seperti dolar AS.

Selain itu, data ketenagakerjaan nonfarm payrolls dari AS yang melampaui ekspektasi turut memperkuat posisi dolar, menambah tekanan bagi rupiah.

Ketegangan geopolitik pun memperparah sentimen negatif. Serangan militer Israel di Gaza, aksi militer AS di Yaman, serta konflik yang terus memanas antara Rusia dan Ukraina menambah beban terhadap mata uang negara-negara berkembang.

"Pasar global saat ini tengah dibayangi kecemasan tinggi. Namun, jika ada tanda-tanda pelonggaran kebijakan dagang dari Trump, pasar berisiko seperti rupiah masih berpeluang untuk pulih," kata Ariston.

Di tengah dinamika global yang tidak menentu, rupiah kini menjadi indikator penting dalam membaca arah pergerakan investasi, terutama bagi para pelaku pasar yang menimbang risiko dengan hati-hati.

Editor: Safriana syahra

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini