Selasa, 2 Juni 2026

Dubes RI di Uzbekistan: Pengalaman Indonesia Kelola Kemajemukan Layak Dicontoh Negara Lain

Photo Author
Tiarsin Nawacita, Nawacita Post
- Selasa, 16 September 2025 | 18:55 WIB

NAWACITAPOST.COMDuta Besar Republik Indonesia di Uzbekistan, Siti Ruhaini Dzuhayatin, menyampaikan keistimewaan Indonesia dalam mengelola kemajemukan di Forum Internasional ke-2 Dialogue of Declarations (DoD) di ibu kota Uzbekistan, Tashkent.

Ruhaini sapaan akrab Dubes RI untuk Uzbekistan ini mengatakan, Indonesia sering digambarkan sebagai bangsa dengan keberagaman yang mustahil karena memiliki lebih dari 1.300 kelompok etnis, lebih dari 700 bahasa, beragam agama saling hidup berdampingan di lebih dari 17.000 pulau.

"Menurut logika umum, keberagaman seperti itu seharusnya membuat kita terpecah-pecah. Namun sejarah menunjukkan jalan yang berbeda. Pengalaman Indonesia layak menjadi contoh negara lain,” kata Ruhaini dalam forum yang diadakan oleh Institute for Strategic and Regional Studies di bawah Presiden Republik Uzbekistan bekerja sama dengan Love Your Neighbor Community (LYNC) di kota Tashkent, pada 13 September 2025.

Baca Juga: Sempat Membantah Dirinya Terlibat, Kini Kades Dadapan Ditetapkan Sebagai Tersangka

Srikandi kelahiran 17 Mei 1963 Blora, Jawa Tengah ini membawakan sesi khusus tentang Indonesia dalam forum yang juga didukung oleh Komite Urusan Agama, Pusat Peradaban Islam di Uzbekistan, Kementerian Luar Negeri Republik Uzbekistan, dan Pemerintah Daerah Samarkand.

Acara itu menghadirkan sekitar 50 tokoh terdiri dari cendekiawan, teolog, pakar, dan para pejabat senior dari 15 negara termasuk Indonesia, Amerika Serikat (AS), Inggris, Tiongkok, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan negara-negara di Asia Tengah, sebagai upaya bersama mempromosikan toleransi dan kerukunan umat beragama.

Dalam sesi khusus bertajuk "Studi Kasus: Dampak Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) di Indonesia", Ruhaini menyampaikan program LKLB atau Cross-Cultural Religious Literacy, yang diinisiasi oleh Institut Leimena telah menjadi model membangun toleransi dan kohesi sosial di tingkat global.

"Jalan Indonesia menuju kebangsaan, tidak dilakukan lewat penaklukan militer atau konsensus elit namun komitmen sipil bersama yang disebutnya nasionalisme akar rumput," ucap alumni UGM Yogyakarta ini.

Baca Juga: Deteksi Dini, Kasubsi Kamtib Lapas Gunungtua Lakukan Kontrol Seputaran Branggang

Menurutnya, fondasi terkuat dari komitmen sipil tersebut adalah Sumpah Pemuda tahun 1928, serta didukung ideologi bangsa yaitu Pancasila dan konstitusi Undang-undang Dasar 1945.

"Indonesia sangat menghargai konsep Literasi Keagamaan Lintas Budaya. Kami bersyukur bahwa kerangka kerja ini telah memperkaya banyak pendekatan domestik kami," ujar Ruhaini yang juga menjabat Senior Fellow Institut Leimena.

Dia menjelaskan Indonesia telah mengimplementasikan LKLB melalui komponen masyarakat khususnya guru dan pendidik, pejabat pemerintah, bahkan aparat penegak hukum.

"Program LKLB membantu memoderasi perbedaan dan memperkuat kepercayaan, serta bertindak sebagai pengingat bahwa koeksistensi tidak hanya membutuhkan toleransi, tetapi juga pemahaman, empati, dan tanggung jawab bersama," papar Guru Besar bidang Hak Azasi Manusia (HAM) dan Gender ini.

Baca Juga: Dukung Literasi Digital, DPRD Surabaya: Anak Muda Harus Jadi Agent of Truth

Halaman:

Editor: Tiarsin Nawacita

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Trump Menyerah Pada Iran Demi Pasokan Minyak

Rabu, 8 April 2026 | 16:23 WIB