gaya-hidup

Sangat Menarik Untuk Dicermati, Ini Nilai Budaya dan Kearifan Lokal Masyarakat Jombang

Jumat, 2 Februari 2024 | 06:46 WIB
Pakaian khas Jombang (foto istimewa)

NAWACITAPOST.COM - Selain dikenal sebagai Kota Santri, Jombang juga memiliki nilai-nilai kearifan lokal, budaya serta tradisinya. Ternyata Jombang memiliki pakaian khas. Sangat menarik untuk di cermati.

Berikut makna dari Jenis pakaian khas Jombang mulai dari blangkon Sundhul Mego, pakaian jas Gulon Dwi Garta beserta celana Tapih Kudawaningpati.

Udheng Blangkon Sundhul Mego

Udheng Blangkon Sundhul Mego merupakan gabungan penutup kepala atau tekes pada era abad 13, Udheng Remo, udeng Ludruk, udeng Jawa Timuran, dan Blangkon Cekdongan. Ini mengingat insan Jombang sangat egaliter, sangat menghormati perbedaan, dan sangat toleran.

Baca Juga: Mahfud Md Kenakan Pakaian Adat Madura Saat Debat Cawapres, Ternyata Ini Maknanya!

Nama Sundhul Mego sendiri diambil dari nama Patih dalam Cerita Wayang Topeng Jatiduwur dalam lakon Wiruncono Murco.

Undheng Blangkon Sundhul Mego dengan ciri Poncot Ngarsa atau Poncot Depan ada 2 (dua) macam:

1. Poncot Ngarsa depan keatas

Poncot ngarsa depan keatas ini diartikan sebagai ciri kembang kanthil yang mengacu pada Sunan Kalijaga yang memberi wejangan “manusia itu seperti bunga mawar (bermacam-macam) asalkan tetap seperti bunga kanthil (hatinya tetap kumanthil terhadap Tuhan yang maha esa) seperti selalu mengangkat tangannya untuk meminta maaf, agar apapun yang lahir dari bumi Jombang mendapatkan belas kasih dan barokah dari Tuhan.

Baca Juga: Kenakan Pakaian Adat Minang, Kakanwil Ilham Djaya Pimpin Upacara HUT RI ke-78

2. Poncot Ngarsa menghadap ke bawah

Poncot ngarsa ke bawah ini diartikan sebagai lambang hati yang ramah atau padi yang merunduk, poncot ngarsa yang menghadap ke bawah ini seharusnya di bawa oleh satria yang memberikan Wahyu, seperti air mancur yang di gambarkan dalam relief candi rimbi yang bermakna selalu menetesi anugrah terhadap bawahannya beserta rakyatnya.

3. Jas Gulon Dwi Garta

Jas Gulon Dwi Garta merupakan pakaian atasan pria. Jas Gulon Dwi Garta pernah di pakai oleh Bupati pertama Jombang yakni RA Soeryo Diningrat V, busana ini dipilih karena mengikuti pola busana adat Jawa yang cenderung menggunakan jas untuk busana atasannya. Bagian Jas Gulon Dwigartra ini menjadi titik pembeda dengan busana adat dengan daerah lain di Jawa Timur. Jas gulon bermakna memakai kerah tegak, untuk membedakan dengan model potong gulon atau pun desain teluk belanga.

Baca Juga: Menggunakan Pakaian Adat Tradisional, Lapas Kelas IIB Padangsidimpuan Kanwil Kemenkumham Sumut Gelar Upacara Detik-Detik Proklamasi RI

Busana Atasan Jas Gulon Dwi Gatra juga sebagai pembeda dengan bentuk Jas Mataraman dan Jas Jawa Timuran atau sering disebut jas Basofi.

Sedangkan nama busana Dwi Gatra adalah bertemunya dua gatra budaya menurut pemetaan sejarawan dan budayawan almarhum Prof. Ayu Sutarto, yaitu gatra budaya Mataraman (Pracima) dan gatra budaya Arek (purwa).

Tapih adalah istilah untuk busana bagian bawah pria. Istilah tapih yang artinya kain atau busana bawah yang sudah dipakai sejak era Mataram Kuno atau Medang. Tapih Kudawaningpati untuk menunjukkan busana laki-laki Jombang Deles. dari tokoh dalam cerita Panji pada Wayang Topeng.

Halaman:

Tags

Terkini