Selasa, 2 Juni 2026

Survei: Milenial dan Gen Z Lebih Memilih Jadi Pengangguran daripada Tidak Happy di Tempat Kerja, Kok Bisa Ya?

Photo Author
Safriana syahra, Nawacita Post
- Rabu, 13 April 2022 | 12:11 WIB

Jakarta, NAWACITAPOST.COM - Pekerjaan adalah suatu kebutuhan untuk menunjang kebutuhan hidup. Banyak orang saat ini yang sedang membutuhkan pekerjaan. Bagi sebagian orang, memiliki pekerjaan itu ibarat jaminan keamanan.  Tetapi pandangan ini tidak berlaku bagi generasi milenial dan gen Z.

Tetapi ada juga sebagian orang yang ingin keluar dari pekerjaannya karena tidak merasa nyaman dengan lingkungannya atau dengan tanggung jawab yang diberikan.

Berdasarkan survei yang dilakukan Randstad Workmonitor pada 2022 menemukan bahwa 41 persen milenial dan Gen Z memilih menjadi pengangguran dibandingkan tidak bahagia di tempat kerja.

Salah satunya ditunjukkan oleh Yaw, seorang lulusan jurusan hukum berkebangsaan Malaysia yang sempat bekerja dua tahun lalu, walaupun sekarang pengangguran ia mengaku tidak merasa terganggu.

“Aku pikir perlu ada penyesuaian keseimbangan kerja dan hidup yang ditawarkan perusahaan,” ujarnya.

Selama menganggur Yaw yang lulus pada tahun 2019 telah mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian pengacara Malaysia dan ia juga mengajar biola paruh waktu.

Bagi generasi tua keputusan Yaw ini kurang bertanggung jawab. Yaw kini berusia 25 tahun termasuk dalam golongan Millenial-Gen Z.

Menurut survey terbaru dari Randstad, lebih dari setengan responden generasi milenial dan Gen Z mengaku akan keluar dari pekerjaan yang melarang mereka menikmati hidup. Berarti banyak orang yang lebih muda tidak mnegambil lowongan pekerjaan yang ada jika tidak sesuai dengan ekspetasi mereka,

Survei ini melibatkan 35 ribu pekerja dari 34 negara. Hasil dari survei menunjukkan bahwa 41 persen responden dari generasi yang lebih tua, yakni millnial dan Gen Z, memilih akan keluar dari kerjaan yang menimbulkan konflik di kehidupan mereka.

Survei dilakukan secara online kepada responden yang berusia 18-67 tahun yang melibatkan responden di Singapura.

Dari 52 persen  pekerja Singapura lebih memilih keluar dari pekerjaannya apabila membatasi mereka dari menikmati hidup.

Lalu, 62 persen responden memilih untuk tidak bekerja sama sekali karena tidak masalah dengan keuangan.

Sementara, 41 persen mengatakan lebih suka menganggur daripada tidak bahagia dalam pekerjan.

Sebanyak 56 persen menyetujui bahwa kehidupan pribadi lebih penting  dari pada kehidupan kerja mereka, 80 persen mengatakan fleksibilitas jam kerja lebih penting, dan 27 persen di antaranya  mereka telah berhenti dari pekerjannya karena tidak memberikan fleksibilitas yang cukup.

 

Editor: Safriana syahra

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini