NAWACITAPOST.COM— Di tengah dinamika isu daerah yang kian kompleks, Perkumpulan Merah Putih (PMP) Kalimantan Barat menggelar agenda silaturahmi mitra strategis bersama Kepolisian Daerah Kalimantan Barat di Rumah Melayu Pontianak, Rabu (19/8/2026).
Mengusung tema "Menyambut Sinergi dan Kolaborasi perkuat solidaritas dan Kamtibmas untuk Kalimantan Barat Maju Berkelanjutan", perhelatan ini dibuka secara semarak dengan penampilan tradisi Dendang Melayu.
Dalam sambutannya, Ketua Perkumpulan Merah Putih Kalimantan Barat, Dr. Dede Suratman, M.Si, mengungkapkan jejak sejarah organisasi yang dipimpinnya.
Ia menjelaskan bahwa nama PMP bermula dari Paguyuban Merah Putih yang berdiri pada tahun 2012 silam. Menyeleraskan arahan dari Kesbangpol, wadah tersebut kini bertransformasi menjadi PMP yang menaungi keberagaman 24 etnis di seluruh wilayah Kalimantan Barat.
Acara penuh kehangatan ini turut dihadiri oleh jajaran tokoh ketua masyarakat dan etnis, Wakil Bupati Kubu Raya, hingga mantan Rektor Universitas Tanjungpura, Prof Hairil Efendi.
Pada kesempatan yang sama, Kapolda Kalimantan Barat, Irjen Pol Alberd Teddy Benhard Sianipar, memberikan pandangan mendalam terkait berbagai tantangan kritis di daerah.
Baca Juga: Peringatan Tegas Kepala Kejaksaan Tinggi Kalbar Saat Lantik Aspidsus: Jagalah Marwah Hukum!
Ia menyoroti ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang sempat menyelimuti Kalbar hingga menghanguskan hampir 2 juta hektar lahan.
Menurutnya, bencana ini tidak hanya dipengaruhi oleh faktor cuaca ekstrem, melainkan juga tindakan manusia yang kerap memicu sengketa lahan antara perusahaan dan warga. Terlebih, dampak El Nino turut memperparah keadaan dengan memicu kekeringan, gagal panen, hingga terganggunya aktivitas belajar murid di sekolah.
Meski demikian, lulusan Akpol 1994 ini menegaskan keteguhan sikap kepolisian yakni "Polri tetap humanis dalam penanganan Hukum didalam masyarakat."
Selain ancaman Karhutla, Alberd turut mewaspadai dinamika sosial di ruang digital. Ia menggarisbawahi bahaya penyebaran hoaks dan ujaran kebencian yang dinilai sebagai berita bohong yang sengaja diciptakan untuk memanipulasi publik, di mana kebohongan yang terus-menerus digaungkan secara perlahan dapat dianggap sebagai kebenaran.
Eks Sekretaris Utama PPATK ini, mengingatkan bahwa media sosial sejatinya merupakan pedang bermata dua.
Menutupi penyampaiannya, Kapolda menyoroti dampak ganda dari pembangunan infrastruktur dan investasi—mulai dari potensi ekonomi hingga risiko kesehatan lingkungan dan pembabatan hutan.
Peraih Adhi Makayasa ini mengimbau seluruh elemen masyarakat dan pemangku kepentingan untuk sigap menuntaskan potensi konflik sejak dini sebelum membesar.
"Jangan sampai menjadi gunung Es. Jadi harus di selesaikan di puncaknya jangan sampai ada permasalahan di bawah," pungkas Alberd.(Ambisius / Armend)