NAWACITAPOST.COM - Proyek Strategis Nasional (PSN) Reklamasi kawasan pantai kenjeran yang akan digarap oleh PT Granting Jaya, mendapat banyak tentangan dari masyarakat, khususnya dari para nelayan Surabaya.
Meski Direktur PT Granting Jaya, Soetiadji Yudho, memastikan bahwa niat proyek ini adalah untuk kemajuan bersama, namun banyak pihak yang masih belum percaya, karena melihat track record perusahaan yang sudah dua dekade mengelola pesisir pantai kenjeran.
Termasuk Inisiator Forum LPMK Pesisir Surabaya, Cak Ali, yang merasa prihatin terhadap keberadaan PT Granting Jaya di Kawasan Kecamatan Bulak selama lebih dari dua dekade.
Baca Juga: Nelayan Tolak Reklamasi PSN Kenjeran, Berikut penjelasan PT Granting Jaya
Menurut Cak Ali, perusahaan ini tidak mampu membawa perubahan ekonomi yang signifikan bagi para nelayan sekitar. Selain itu, PT Granting Jaya tampak kurang peduli terhadap pelestarian lingkungan, hanya fokus pada wahana tanpa memperhatikan dampaknya pada alam sekitar.
Pemerintah Kota Surabaya, meskipun memiliki strategi pertumbuhan ekonomi sebagai tolak ukur pembangunan, belum berhasil mengatasi ketimpangan pendapatan yang besar di antara kelas sosial masyarakat. Masyarakat nelayan di kawasan pesisir seringkali bekerja tanpa dukungan dari pengusaha yang mengelola lahan pesisir.
Cak Ali menegaskan bahwa teori “trickle-down effect” dalam sistem kapitalisme tidak berfungsi seperti yang diharapkan. Bahkan, peningkatan biaya hidup dari sektor pangan telah membuat rakyat sulit mencapai kesejahteraan.
Baca Juga: Kabar Gembira! Pemkot Surabaya Membebaskan PBB, Ini Syaratnya!
Pengusaha yang mengelola lahan pesisir di Kecamatan Bulak tampak tidak memperhatikan kondisi ini, bahkan ketika Pemerintah Kota menggalakkan “Program Kampung Madani,” dukungan yang diberikan tidak tampak.
Selain itu, reklamasi pantai juga membawa dampak negatif bagi nelayan setempat. Penelitian menunjukkan bahwa reklamasi pantai di beberapa wilayah Asia Tenggara telah menyebabkan penurunan populasi ikan hingga 30%, yang berdampak langsung pada mata pencaharian nelayan tradisional.
Perubahan iklim juga memperburuk kondisi bagi nelayan, dengan migrasi ikan ke perairan yang lebih dalam dan lebih dingin.
Baca Juga: Hingga habis semester, Dua BUMD tak Setor Deviden. Reni Astuti: Ada Apa?
Kombinasi hilangnya habitat ikan akibat reklamasi dan migrasi ikan akibat perubahan iklim mengakibatkan penurunan drastis dalam hasil tangkapan. Nelayan di wilayah pesisir yang mengalami reklamasi intensif menghadapi tantangan ganda yang mempengaruhi keberlanjutan mata pencaharian mereka.
"Semangat pengembang yang lebih mengutamakan reklamasi daripada membangun pesisir Surabaya menjadi perhatian serius bagi keberlanjutan ekonomi dan lingkungan," sebut Cak Ali, memungkasi. ***