Ia mengakui bahwa persoalan biaya masih menjadi salah satu hambatan bagi sebagian keluarga. Karena itu, akses bantuan pendidikan perlu terus diperkuat agar anak yang memiliki kemampuan dan kemauan belajar tidak kehilangan kesempatan hanya karena keterbatasan ekonomi.
Bagi siswa dari keluarga yang memenuhi kriteria, program seperti Program Indonesia Pintar (PIP) dan Kartu Indonesia Pintar Kuliah dapat menjadi salah satu jalur dukungan pendidikan sesuai ketentuan yang berlaku.
Reni berharap anak-anak Surabaya berani bermimpi menjadi dokter, guru, insinyur, ilmuwan, maupun profesi lain. Namun, mimpi tersebut perlu disertai kerja keras, pembelajaran berkualitas, serta dukungan nyata dari keluarga, sekolah, dan pemerintah.
Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat Bukan Sekadar Slogan
Di tengah persoalan tenaga pendidik, kunjungan Reni ke SMPN 23 Surabaya juga membawa misi penguatan karakter melalui Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat.
Gerakan tersebut mencakup bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, serta tidur cepat.
Reni mendorong para siswa membiasakan tujuh perilaku tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, pembentukan karakter perlu dimulai sejak dini agar anak tumbuh menjadi pribadi yang disiplin, mandiri, sehat, berakhlak baik, dan memiliki kepedulian sosial.
Perwakilan Dinas Pendidikan Kota Surabaya, Atiko, Kepala Seksi Kurikulum, menyampaikan apresiasi atas perhatian Reni terhadap pendidikan di Surabaya, khususnya penguatan gerakan tersebut.
Atiko menegaskan bahwa keberhasilan membangun karakter anak membutuhkan keteladanan guru, pendampingan orang tua, serta evaluasi berkelanjutan. Sekolah tidak dapat bekerja sendiri karena pembiasaan positif juga harus diterapkan di rumah dan lingkungan masyarakat.
Ia mengingatkan siswa bahwa kebiasaan bermasyarakat sama pentingnya dengan kebiasaan belajar. Anak perlu mampu berinteraksi, bekerja sama, menghormati orang lain, dan membangun kepedulian terhadap lingkungan sekitarnya.
Atiko juga menekankan pentingnya kolaborasi antara sekolah, komite, keluarga, dan masyarakat. Dengan dukungan bersama, gerakan pembentukan karakter diharapkan tidak berhenti sebagai program formal, tetapi menjadi budaya dalam kehidupan sehari-hari.
Sekolah Siapkan Ruang Kreativitas dan Prestasi Siswa
Di sisi lain, SMPN 23 Surabaya terus berupaya menciptakan lingkungan belajar yang membuat siswa nyaman dan memiliki ruang untuk mengembangkan potensi.
Mas’ulah menyampaikan bahwa sekolah berencana mengembangkan pojok prestasi, yakni ruang yang dapat menampilkan karya, kreativitas, dan pencapaian siswa.
Gagasan tersebut diharapkan menjadi wadah bagi pelajar untuk menampilkan puisi, karya seni, dan berbagai hasil kreativitas lainnya. Sekolah juga berupaya mengembangkan potensi nonakademik siswa, termasuk kegiatan paskibra dan kepramukaan yang telah mengantarkan peserta didik mengikuti berbagai kegiatan dan meraih prestasi.