NAWACITAPOST.COM - Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya, bekerjasama dengan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), menggelar sosialisasi dan pelatihan aplikasi untuk sinkronisasi data kemiskinan dari tahun 2022 hingga 2024. Acara ini diikuti oleh 209 orang dari jajaran perangkat daerah di tingkat kelurahan dan kecamatan se-Kota Surabaya.
Dalam acara tersebut, Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menyatakan bahwa tujuan sosialisasi dan pelatihan ini adalah untuk menyelaraskan data kemiskinan yang dimiliki oleh Bappenas dengan data yang dimiliki oleh Pemerintah Kota Surabaya, khususnya melalui aplikasi Si Keluarga Miskin (Si Gakin).
"Dengan menyandingkan data Regsosek Bappenas dengan data aplikasi Si Gakin milik Pemkot Surabaya, kami yakin akan terlihat perubahan yang signifikan. Pemkot telah memberikan berbagai intervensi untuk keluarga miskin, mulai dari lapangan pekerjaan hingga bantuan lainnya," ujar Wali Kota Eri Cahyadi.
Baca Juga: Catat! Setiap Pekan, Pemkot Surabaya akan Gelar Pasar Murah
Ia juga menyampaikan harapannya bahwa melalui sinkronisasi data ini, pemerintah dapat lebih baik dalam mengetahui kebutuhan masyarakat, sehingga upaya untuk mensejahterakan mereka dapat lebih terarah dan efektif.
Dalam hal penurunan kemiskinan, Wali Kota Eri menyatakan bahwa data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan penurunan yang signifikan dari tahun ke tahun. Di Surabaya, kemiskinan menurut data BPS pada tahun 2021 sebesar 5,23 persen, turun menjadi 4,72 persen pada tahun 2022, dan terus menurun menjadi 4,65 persen pada Februari 2023.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Penelitian, dan Pengembangan (Bappedalitbang) Kota Surabaya, Irvan Wahyudradjat, menambahkan bahwa sosialisasi dan pelatihan ini bertujuan untuk menyinkronkan data kemiskinan di Surabaya secara menyeluruh, tidak hanya data Gakin, tetapi juga data warga sejahtera dan prasejahtera.
Baca Juga: Surabaya Tidak Ingin Beratkan Pengusaha dengan Kenaikan Pajak Reklame
"Iya, pasti berkurang, karena Pak Wali sudah memberikan intervensi yang cukup banyak untuk keluarga miskin di Surabaya. Kami yakin data kemiskinan tahun 2022 dan 2024 akan menunjukkan perbedaan yang signifikan," ungkap Irvan. ***