NAWACITAPOST.COM - Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB) Kota Surabaya mengungkapkan berbagai faktor yang dapat memicu terjadinya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak.
Masalah ini kompleks dan melibatkan faktor individual, sosial, dan hukum.
Menurut Thussy Apriliyandari, Kepala Bidang Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) DP3APPKB Kota Surabaya, faktor individual mencakup lingkungan keluarga di mana pelaku dan korban kekerasan sering tumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang tidak harmonis.
Baca Juga: Wakil Ketua DPRD Surabaya Soroti Minimnya Pengetahuan Masyarakat tentang Pemilu 2024
Pelaku dapat menganggap kekerasan sebagai sesuatu yang wajar tanpa menyadari pelanggaran terhadap Hak Asasi Manusia (HAM).
Selanjutnya, kesadaran pelaku terhadap tindakan kekerasan juga menjadi faktor, di mana banyak pelaku tidak menyadari bahwa tindakan mereka dapat menyakiti atau merugikan korban.
Faktor karakter, seperti sifat keras, agresif, impulsif, egois, dan tidak sabaran, juga dapat menjadi penyebab kekerasan. Rantai kekerasan yang tidak terputus dari generasi sebelumnya juga turut berkontribusi.
Baca Juga: Jelajahi Sejarah Kota Lama Surabaya dengan Paket Wisata Jeep Tour Terbaru
Faktor sosial budaya patriarki juga memiliki peran signifikan, di mana kesetaraan gender masih belum sepenuhnya diterapkan, dan budaya patriarki melegitimasi kekerasan terhadap perempuan dan anak sebagai sesuatu yang dapat diterima.
Pengaruh media massa dan media sosial, melalui gadget, juga dapat memicu terjadinya kekerasan.
Thussy menjelaskan bahwa kurangnya kesadaran terhadap hukum juga dapat memicu kasus kekerasan, meskipun undang-undang perlindungan perempuan dan anak sudah jelas diatur dalam hukum Indonesia.
Baca Juga: Buruan Daftar! Pemkot Surabaya Kembali Ajak Warga Berinovasi Melalui Lomba Inovboyo 2024
Beberapa pelaku mungkin tidak memahami konsekuensi hukum dari tindakan kekerasan yang mereka lakukan.
Dalam mencegah kekerasan terhadap perempuan dan anak, Thussy menekankan peran penting lingkungan keluarga dan memegang teguh ajaran agama. Ekonomi juga diakui sebagai faktor penting yang dapat memengaruhi terjadinya kekerasan. ***