NAWACITAPOST.COM - Komisi D DPRD Surabaya melakukan inspeksi mendadak (sidak) terhadap layanan puskesmas 24 jam di Kota Surabaya pada Selasa malam (25/2). Sidak dilakukan di Puskesmas Sidotopo Wetan, Peneleh, dan Ketabang. Hasilnya, ditemukan sejumlah permasalahan yang memerlukan perhatian serius.
Hasil sidak Komisi D DPRD Surabaya terhadap puskesmas 24 jam mengungkap berbagai permasalahan yang perlu segera dibenahi. Dari aspek keamanan hingga ketersediaan tenaga medis, sejumlah temuan menunjukkan bahwa pelayanan masih jauh dari optimal, terutama di malam hari.
Di Puskesmas Sidotopo Wetan, kurangnya petugas keamanan menjadi perhatian utama. Pintu masuk yang tidak selalu terjaga dapat mengganggu ketertiban dan menciptakan kesan puskesmas tidak siap melayani 24 jam.
Baca Juga: Warga Kedurus Butuh Lapangan Sepak Bola dan SMA/SMK Negeri, Cahyo Harjo Siap Kawal Aspirasi
Selain itu, petugas medis perlu lebih siaga agar pelayanan tetap optimal setiap saat. Dari sisi fasilitas, kesiapan alat medis seperti tabung oksigen juga harus dipastikan agar dapat digunakan kapan saja dalam situasi darurat.
Sementara itu, Puskesmas Peneleh menghadapi kendala dalam akses darurat. Tidak adanya jalur langsung ke IGD dari luar menyulitkan pasien yang membutuhkan penanganan cepat. Selain itu, ruang tindakan yang masih menyatu dengan administrasi dapat memperlambat proses pelayanan.
Faktor lain yang menjadi penghambat adalah status bangunan yang berada di lahan cagar budaya, sehingga upaya renovasi demi meningkatkan standar layanan menjadi sulit dilakukan. Akses bagi pasien di malam hari juga perlu diperbaiki, termasuk dengan menambah lahan parkir agar warga lebih mudah mendapatkan layanan.
Baca Juga: Komisi D DPRD Surabaya Sidak Puskesmas 24 Jam, Temukan Banyak Kejanggalan
Di Puskesmas Ketabang, permasalahan utama terletak pada kesigapan petugas dalam menangani pasien di malam hari. Dokter jaga lebih banyak berada di rumah sakit, bukan di puskesmas, sehingga menghambat layanan bagi pasien yang datang di luar jam kerja biasa.
Meski memiliki bangunan besar dan modern, pemanfaatannya belum maksimal, terutama dalam mendukung layanan IGD. Pintu IGD yang terkunci semakin memperburuk keadaan, membuat pasien gawat darurat harus mencari akses lain. Selain itu, area pelayanan depan yang kurang penerangan memberikan kesan bahwa puskesmas tidak beroperasi 24 jam secara optimal.
Johari Mustawan, anggota Komisi D, menekankan perlunya analisis ketercukupan SDM untuk layanan malam hari.
Baca Juga: Ingatkan Dinkes, Komisi D: 'Jangan Sembarangan dalam Menyampaikan Program'
"Kesiapan tenaga medis malam sangat penting. Jangan sampai pasien datang dalam kondisi darurat, tetapi layanan lambat karena kurangnya dokter dan petugas," ujarnya.
Ia juga menyoroti perlunya peningkatan kesiapan alat medis, obat darurat, serta akses yang lebih mudah bagi pasien IGD. Selain itu, jumlah dokter jaga malam harus diperbanyak untuk memastikan kecepatan dan ketepatan dalam menangani 144 jenis penyakit yang tidak bisa ditangani rumah sakit. ***