Minggu, 19 Juli 2026

Komisi D DPRD Surabaya Sidak Puskesmas 24 Jam, Temukan Banyak Kejanggalan

Photo Author
Nawi., Nawacita Post
- Rabu, 26 Februari 2025 | 22:07 WIB
Komisi D DPRD Surabaya Sidak Puskesmas 24 Jam (Nawi)
Komisi D DPRD Surabaya Sidak Puskesmas 24 Jam (Nawi)

NAWACITAPOST.COMKomisi D DPRD Kota Surabaya menyoroti layanan kesehatan 24 jam di sejumlah puskesmas di Kota Pahlawan. Pasalnya, inspeksi mendadak (sidak) yang dilakukan di tiga puskesmas menemukan fakta bahwa layanan 24 jam yang dijanjikan ternyata tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Anggota Komisi D DPRD Surabaya, Imam Syafi'i, mengungkapkan bahwa saat sidak, semua puskesmas yang dikunjungi sudah tutup sebelum pukul 12 malam. Padahal, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Surabaya, Nanik Sukristina, sebelumnya berkomitmen mengoptimalkan layanan 24 jam di 63 puskesmas, meskipun tanpa kehadiran dokter yang standby, melainkan hanya perawat.

“Begitu kami sidak, ternyata ada puskesmas yang mulai jam 11 malam sudah tutup. Pintu pagar dikunci, lampu dimatikan. Ada dokter dan tenaga medis piket, tetapi ketika kami datang, mereka mungkin kecapekan jadi tidur,” ujar Imam pada Rabu (26/2/2025).

Baca Juga: Ingatkan Dinkes, Komisi D: 'Jangan Sembarangan dalam Menyampaikan Program'

Salah satu puskesmas yang disidak adalah Puskesmas Sidotopo Wetan, yang selama ini disebut sebagai salah satu puskesmas terbaik di Surabaya. Namun, sidak DPRD justru menemukan minimnya tenaga medis di sana, hingga sopir ambulans terpaksa merangkap sebagai petugas penerima pasien.

Tak hanya itu, Imam juga menyoroti kondisi Unit Gawat Darurat (UGD) yang dinilai kurang memenuhi standar. “Tabung oksigen dibiarkan terbuka, tidak ada masker oksigen. Ini sangat berbahaya dan mencerminkan kurangnya kesiapan fasilitas,” tegasnya.

Kondisi serupa ditemukan di Puskesmas Peneleh. Imam menyebut pagar dalam keadaan terkunci saat ia tiba di lokasi. “Saya harus mengetuk pagar berkali-kali sebelum akhirnya dibuka. Kalau memang niat buka 24 jam, kenapa pintu harus digembok?” tanyanya.

Baca Juga: Tak Kirim Karangan Bunga Wali Kota, Fraksi PSI Surabaya Pilih Bagikan Gembok Cakram untuk Warga

Hal yang sama juga terjadi di Puskesmas Ketabang, yang masih berada di kawasan Balai Kota Surabaya. Puskesmas ini baru saja direnovasi dengan anggaran Rp 5 miliar, tetapi saat sidak, pagarnya tertutup dan tidak ada dokter jaga. “Katanya dokter on-call, tapi kalau 24 jam harusnya ada dokter yang standby,” ujar Imam.

Berdasarkan hasil sidak, Imam menilai bahwa puskesmas di Surabaya belum siap menjalankan layanan 24 jam. Selain kekurangan SDM, fasilitas medis dan ketersediaan obat-obatan juga masih kurang memadai. Ia meminta Dinkes untuk segera melakukan evaluasi agar pelayanan kepada masyarakat bisa lebih maksimal.

“Kalau tidak siap 24 jam, jangan hanya pencitraan. Kalau memang butuh tambahan tenaga medis atau obat, ya harus disampaikan, bukan malah membohongi publik,” tegasnya.

Baca Juga: Bang Jo: Surabaya Harus 100% Terdaftar BPJS dan Mendapatkan Layanan Optimal

Sidak ini dilakukan untuk memastikan kesiapan puskesmas dalam menangani pasien, terutama setelah BPJS Kesehatan mengeluarkan kebijakan baru yang mengalihkan 144 jenis penyakit agar cukup ditangani di fasilitas kesehatan tingkat pertama. ***

Editor: Nawi.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Terkini