Minggu, 19 Juli 2026

Operasi di Prostitusi Moroseneng Blong, Dewan: Apa Perlu Diajari?

Photo Author
Elya Yuddy Irawan, Nawacita Post
- Kamis, 9 Oktober 2025 | 13:57 WIB
Foto: Anggota satpol PP mengecek rumah di Jalan Sememi Jaya II, yang terindikasi dijadikan sebagai wisma. (Nawi)
Foto: Anggota satpol PP mengecek rumah di Jalan Sememi Jaya II, yang terindikasi dijadikan sebagai wisma. (Nawi)

NAWACITAPOST.COM – Kinerja Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Surabaya kembali menjadi sorotan tajam. Hal ini menyusul hasil operasi gabungan di kawasan eks lokalisasi Moroseneng, Kecamatan Benowo, yang disebut nihil temuan prostitusi.

Anggota DPRD Kota Surabaya, Imam Syafi’i, menilai operasi yang melibatkan Satpol PP, TNI, Polri, dan perangkat wilayah pada Selasa malam (7/10) itu terkesan tidak membuahkan hasil yang nyata. Padahal, dua hari sebelumnya, ia sendiri menemukan praktik prostitusi berjalan terbuka saat melakukan inspeksi mendadak (sidak).

“Saya sidak pada Minggu malam, praktik prostitusi masih masif dan terang-terangan. Tapi begitu Satpol PP turun, tiba-tiba laporan hasilnya nihil. Ini kan aneh, ada apa dengan operasi itu?” ujar Imam, Rabu (8/10).

Politikus Partai NasDem itu bahkan menuding adanya kebocoran informasi sebelum operasi berlangsung. Ia menduga para pelaku bisnis esek-esek itu sudah mendapat kabar lebih dulu, sehingga bisa menutup tempatnya sebelum petugas datang.

“Sulit diterima akal kalau Satpol PP dan jajaran wilayah tidak menemukan aktivitas itu. Lha wong saya saja yang tinggal jauh dari sana bisa lihat langsung. Masak mereka tidak bisa menemukan?” tegas Imam.

Menurut Imam, operasi yang tidak menemukan apa-apa bukan berarti kawasan tersebut bersih dari praktik prostitusi. Sebaliknya, hal itu menjadi bukti lemahnya pengawasan dan komitmen aparat dalam menegakkan aturan.

“Kalau hasilnya selalu nihil, ini bukan prestasi, tapi tanda bahwa penegakan hukum tidak berjalan. Masak perlu saya ajarkan cara jitu biar bisa tangkap pelakunya?” sindirnya.

Sementara itu, Camat Benowo, Denny Christupel Tupamahu, menegaskan bahwa pengawasan di kawasan eks lokalisasi Moroseneng sudah dilakukan secara rutin. Ia mengklaim, operasi pada Selasa malam merupakan tindak lanjut dari laporan masyarakat yang resah karena aktivitas prostitusi kembali muncul.

“Petugas sudah menyisir rumah-rumah yang diduga digunakan untuk praktik prostitusi. Tapi saat kami datang, banyak pintu terkunci dari luar dan lampu-lampu padam,” kata Denny.

Kondisi tersebut, alih-alih menenangkan, justru menambah kecurigaan. Imam Syafi’i menilai alasan rumah terkunci dan gelap menunjukkan adanya kebocoran operasi.

“Kalau semua tempat tiba-tiba tutup rapat, artinya ada yang sudah memberi tahu sebelumnya. Jangan sampai aparat malah ikut melindungi praktik seperti itu,” ucap Imam menegaskan.

Meski begitu, Denny memastikan bahwa pihaknya tidak akan berhenti di satu kali operasi. Ia berjanji pengawasan akan dilakukan secara berkelanjutan, termasuk memperluas pemantauan ke kawasan eks lokalisasi Klakah Rejo.

“Kami akan lanjutkan patroli dan rapat bersama Forum Komunikasi Pimpinan Kecamatan untuk memecahkan masalah ini lebih detail,” jelas Denny.

Hingga kini, DPRD Surabaya menunggu langkah konkret dari Satpol PP agar kasus prostitusi di Moroseneng tidak terus menjadi permainan kucing-kucingan. Imam menegaskan, pemerintah kota tidak boleh kalah oleh jaringan prostitusi yang masih beroperasi secara terselubung.

Halaman:

Editor: Elya Yuddy Irawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini