NAWACITAPOST.COM – Ribuan warga, pemuda dan anak-anak kelurahan Sukomanunggal Surabaya, tumplek blek di Lapangan Tambak Lumpang MP, Kecamatan Sukomanunggal, Minggu (21/9/2025). Mereka hadir untuk menyaksikan Semarak Budaya 2025, sebuah agenda besar yang memadukan Festival Layang-Layang dengan Kampung Bubur Madura.
Acara yang dimulai sejak pukul 08.30 WIB itu dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, kemudian penampilan Tari Remo dan atraksi Reog Ponorogo Donowati. Sejak pagi, arena sudah dipenuhi warga yang ingin menikmati kuliner khas, atraksi seni, hingga lomba layang-layang yang menjadi magnet utama.
Koordinator acara sekaligus Ketua LPMK, Hermawan, dalam sambutannya menjelaskan alasan dipilihnya lokasi Tambak Lumpang. Menurutnya, kampung ini relatif baru dan masih memiliki banyak pekerjaan rumah, terutama terkait infrastruktur jalan.
“Tambak Lumpang ini baru berusia 10–11 tahun, jadi masih banyak PR. Tapi bukan berarti pemerintah tidak memperhatikan. InsyaAllah, dengan dukungan lurah dan perangkat kampung, pembangunan bisa segera terealisasi,” ujar Hermawan.
Ia juga menyampaikan ide-ide pengembangan lingkungan, mulai dari penataan jalan, penanaman pohon, hingga pembangunan ruang terbuka hijau yang bisa dimanfaatkan warga.
“Mumpung jalannya belum dipaving, mari kita rawat bersama. Kita bisa tanami pohon supaya ke depan Tambak Lumpang makin sejuk dan indah,” tambahnya.
Hermawan tak lupa menyebutkan kontribusi berbagai tokoh lokal yang mendukung acara, di antaranya Ceki Donowati CS, Pak Marno, Pak Ternuo, hingga seniman reog asli Donowati. Ia juga memaparkan rencana menghidupkan kembali Radio Budaya Raja Muni, media komunitas yang akan menjadi wadah seni dan budaya warga.
“Radio Raja Muni dulu sempat mati suri, tapi akan kita hidupkan lagi sebagai radio budaya khusus penggemar seni dan layang-layang,” tegasnya.
Sementara itu, Lurah Sukomanunggal, Bambang S, menyampaikan terima kasih kepada panitia yang sukses menyelenggarakan acara. Ia menekankan pentingnya kegiatan budaya sebagai sarana kebersamaan dan pemberdayaan ekonomi.
“Kampung Bubur Madura di Tambak Lumpang ini sudah dikenal di Surabaya. Ada delapan warga yang aktif memproduksi bubur Madura untuk dijual ke seluruh kota. Ini bisa jadi ikon baru Sukomanunggal,” ungkap Bambang.
Ia juga menegaskan bahwa kawasan ini bukan hanya dikenal dengan kulinernya, tetapi juga dengan pelatihan seni yang rutin digelar.