Thony menyoroti muatan spirit kebijakan yang terkesan materialistik dan bahasa Surabaya yang cenderung "Moto Duwiten" atau mementingkan diri sendiri.
Baca Juga: Di Pimpin Eri Cahyadi, Program Padat Karya Surabaya Sukses Menyerap 36.194 Tenaga Kerja
"Reformasi birokrasi seolah gagal total dengan penempelan tulisan ini yang sarat dengan muatan spirit kebijakan yang berorientasi pada materialistik, bahasa Surabaya terkesan lebih 'moto duwiten'," ungkapnya.
Thony mengajak untuk membandingkan kebijakan tersebut dengan sektor-sektor privat, seperti pemilik mal mewah dan hotel mewah, yang memberikan fasilitas dan bersikap ramah kepada masyarakat yang ingin berfoto dan membuat rekaman video sebagai kenang-kenangan.
"Coba kita bandingkan dengan sektor-sektor privat yang sering dijustifikasi sebagai kelompok kapitalis," ujar Thony.
"Pemilik mall mewah, pemilik hotel mewah, mereka justru memberikan fasilitas dan lebih bisa bersikap ramah kepada masyarakat yang ingin berfoto dan membuat rekaman videonya untuk menyimpan kenangan," pungkasnya. ***